Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Kota New York, Amerika Serikat, memasuki babak sejarah baru pada awal 2026 dengan dilantiknya Zohran Mamdani sebagai wali kota ke-112. Pelantikan ini menjadi tonggak penting karena Mamdani tercatat sebagai wali kota muslim pertama yang memimpin kota metropolitan tersebut.
Sorotan utama dalam pelantikan tersebut adalah cara Mamdani mengucapkan sumpah jabatan. Ia meletakkan tangan di atas Al-Qur’an, sebuah simbol yang merepresentasikan identitas, keyakinan, serta nilai-nilai yang ingin ia bawa dalam kepemimpinannya.
Pelantikan Zohran Mamdani berlangsung tepat pada tengah malam, 1 Januari 2026, menandai dimulainya masa pemerintahan baru di Kota New York.
Digelar di Stasiun Bawah Tanah Bersejarah Berbeda dengan tradisi pelantikan wali kota yang umumnya digelar di Balai Kota New York, Mamdani memilih lokasi yang tidak lazim namun sarat makna, yakni stasiun kereta bawah tanah Old City Hall, salah satu situs bersejarah di kota tersebut.
Prosesi pengambilan sumpah jabatan dilakukan di hadapan Jaksa Agung Negara Bagian New York, Letitia James. Pemilihan lokasi ini disebut Mamdani sebagai simbol perjalanan New York yang dibangun dari kerja keras kaum pekerja dan keberanian kolektif warganya untuk menciptakan perubahan besar.
Stasiun bawah tanah tersebut dinilai merepresentasikan semangat New York sebagai kota yang terus bergerak, inklusif, dan lahir dari kontribusi berbagai lapisan masyarakat. Nilai-nilai itulah yang ingin Mamdani jadikan fondasi kepemimpinannya.
Dua Mushaf Al-Qur’an Penuh Makna Dalam prosesi sumpah jabatan, Mamdani menggunakan dua Al-Qur’an yang memiliki makna historis dan personal. Salah satu mushaf berasal dari koleksi Schomburg Center for Research in Black Culture. Al-Qur’an abad ke-19 ini melambangkan keberagaman sejarah umat Islam di Amerika Serikat, sekaligus keterkaitan antara komunitas muslim dan perjuangan panjang kelompok minoritas di New York.
Al-Qur’an kedua merupakan mushaf warisan keluarga Mamdani, milik kakek dan neneknya. Penggunaan mushaf tersebut mencerminkan akar identitas pribadi, nilai keluarga, serta prinsip moral yang ia bawa dalam menjalankan tugas sebagai wali kota.
Visi Kepemimpinan dan Prioritas Kebijakan Dalam pidato pelantikannya, Mamdani yang berusia 34 tahun menegaskan komitmennya untuk memimpin secara berani dan berpihak kepada warga. Sebagai penganut sosialis demokrat, ia menyampaikan visi pemerintahan yang berfokus pada keadilan sosial dan perlindungan terhadap masyarakat kelas pekerja.
Sejumlah agenda utama yang menjadi fokus kepemimpinannya antara lain:
Penurunan biaya sewa dan penguatan program perumahan terjangkau.
Perbaikan serta subsidi transportasi publik.
Perlawanan terhadap Islamofobia, rasisme, dan berbagai bentuk diskriminasi, termasuk sentimen anti-Palestina.
Perlindungan dan penguatan hak-hak buruh. Kehadiran pemerintah kota yang melayani seluruh lapisan masyarakat, dari pedagang kaki lima hingga pekerja teknis.
Kritik dari Kalangan Konservatif Pelantikan Mamdani dengan sumpah di atas Al-Qur’an memicu kritik dari sejumlah kelompok konservatif. Salah satu respons datang dari Senator AS asal Alabama, Tommy Tuberville, yang menuliskan pernyataan kontroversial di media sosial menanggapi momen tersebut.
Namun, polemik semacam ini bukan hal baru dalam politik Amerika Serikat. Pada 2006, Keith Ellison, muslim pertama yang terpilih sebagai anggota Kongres AS, juga menghadapi kritik serupa ketika menggunakan Al-Qur’an dalam sumpah jabatannya.
Jejak Hidup Zohran Mamdani Zohran Mamdani lahir di Kampala, Uganda, dan pindah ke New York bersama keluarganya saat berusia tujuh tahun. Ia tumbuh dalam lingkungan multikultural yang membentuk pandangan politiknya sejak dini.
Sebelum terpilih sebagai wali kota New York, Mamdani menjabat sebagai anggota Majelis Negara Bagian New York dari daerah pemilihan Queens. Di lembaga legislatif tersebut, ia dikenal vokal memperjuangkan isu perumahan terjangkau, keadilan ekonomi, serta hak-hak imigran.
Kemenangannya dalam pemilihan wali kota pada November 2025 dipandang banyak pengamat sebagai simbol perlawanan terhadap politik oligarki dan kebangkitan gerakan progresif di tingkat lokal.
Pelantikan Zohran Mamdani tidak hanya menjadi tonggak sejarah bagi komunitas muslim dan warga keturunan Asia Selatan, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi jutaan warga New York akan kepemimpinan yang inklusif dan berpihak pada rakyat.
Red.











