majalahsuaraforum.com – Pemerintah telah menempatkan dana besar senilai Rp 200 triliun pada bank-bank Himbara untuk mempercepat putaran ekonomi nasional. Namun, langkah ini belum membuahkan dampak optimal akibat rendahnya permintaan kredit dari dunia usaha.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa penempatan dana tersebut merupakan strategi pemerintah untuk memperkuat likuiditas dan mendorong ekspansi pembiayaan sektor riil.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai pertumbuhan penyaluran kredit perbankan sepanjang 2025 masih tidak sekuat tahun sebelumnya. Ia memperkirakan hingga akhir tahun, pertumbuhan kredit akan berada pada kisaran 8–11%, lebih rendah dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 10,39%.
Dari sisi industri perbankan, Kepala Ekonomi BCA, David Sumual, menegaskan bahwa hambatan utama bukan berasal dari penyedia kredit. Menurutnya, perbankan memiliki suplai pembiayaan yang cukup untuk disalurkan.
“Tidak terlalu ada masalah sebenarnya dari sisi supply. Masalah utamanya memang masih di sisi demand,” ungkap David.
David menjelaskan bahwa tekanan dan ketidakpastian global membuat banyak pelaku usaha memilih menunda ekspansi bisnis. Karena risiko ekonomi yang masih tinggi, pengusaha dan investor lebih memanfaatkan dana internal (retained earnings) daripada menambah kredit baru. Situasi suku bunga tinggi juga mendorong perbankan menempatkan kelebihan likuiditas pada instrumen dengan imbal hasil lebih besar, seperti deposito.
Meski permintaan pinjaman belum membaik, David memastikan kualitas kredit nasional tetap stabil. “Kalau kita lihat, kualitas kredit masih terjaga di level sekitar 2,2%. Loan at risk juga cenderung menurun, relatif stabil di kisaran 9,5%,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan optimisme bahwa permintaan kredit akan pulih pada 2026. Faktor musiman menjadi salah satu pendorong, seperti meningkatnya konsumsi pada bulan puasa, perayaan Lebaran, serta momentum akhir tahun. Selain itu, berbagai program pemerintah yang sebelumnya terhambat oleh dinamika geopolitik diperkirakan dapat berjalan lebih efektif pada tahun mendatang.
“Banyak pengusaha pasti akan mempersiapkan usahanya untuk mengantisipasi peningkatan permintaan. Jadi kita berharap sampai kuartal I ini masih ada pengaruh positif, apalagi kita melihat realisasi belanja pemerintah sudah mulai kick in ke sistem perekonomian secara keseluruhan,” pungkas David.
Dengan kondisi tersebut, percepatan penyerapan dana Rp 200 triliun di Himbara sangat bergantung pada perbaikan iklim permintaan kredit dalam beberapa periode ke depan.
Lan.











