majalahsuaraforum.com – Nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan hingga menyentuh level Rp17.668 per dolar Amerika Serikat memunculkan sorotan tajam dari berbagai pihak. Di tengah kondisi tersebut, Bank Indonesia tetap meyakini bahwa pelemahan mata uang nasional hanya bersifat sementara dan diperkirakan mulai membaik pada paruh kedua tahun 2026.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan keyakinannya bahwa rupiah akan mulai menunjukkan penguatan memasuki Juli 2026. Pernyataan itu disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Menurut Perry, tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi berbagai faktor eksternal maupun domestik, mulai dari tingginya kebutuhan dolar AS hingga ketidakpastian global yang masih membayangi pasar keuangan internasional.
Ia menjelaskan bahwa Bank Indonesia menilai stabilitas rupiah tidak hanya berdasarkan posisi kurs harian, melainkan melalui rata-rata pergerakan nilai tukar sepanjang tahun.
“Tadi timbul pertanyaan apakah stabilitas rupiah diukur dengan rentangnya asumsi nilai tukar?” kata Perry dalam rapat tersebut.
Perry menyebut pelemahan rupiah yang terjadi saat ini masih berada dalam batas yang dinilai wajar. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, depresiasi rupiah secara tahunan berada di kisaran 5,4 persen.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa periode April hingga Juni memang kerap menjadi masa tekanan terhadap rupiah karena tingginya permintaan dolar AS, baik dari pemerintah, sektor usaha, maupun kebutuhan pasar domestik lainnya.
“Kita bicara average tahunan, dan kalau bicara tahun ke tahun rupiah umumnya dalam tekanan di April, Mei Juni karena demand-nya tinggi,” katanya.
Meski begitu, Perry optimistis kondisi tersebut akan mulai berubah pada kuartal ketiga tahun ini. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak menguat secara bertahap hingga akhir tahun 2026.
Di sisi lain, pelemahan rupiah memicu kritik keras dari anggota DPR. Dalam rapat yang sama, anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PAN, Primus Yustisio, secara terbuka meminta Perry Warjiyo mempertimbangkan untuk mundur dari jabatannya sebagai Gubernur BI.
Primus menilai anjloknya rupiah hingga menembus level terendah menjadi pertanda bahwa Bank Indonesia gagal menjaga stabilitas nilai tukar di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang justru diklaim cukup tinggi.
“Pak Perry yang saya hormati, kadang-kadang Pak, kalau kita mengambil tindakan gentleman itu bukan penghinaan, Pak. Saya berikan contoh, mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri. Tidak ada salahnya. Kalau selanjutnya terserah Bapak tentu saja. Tapi itu bukan sikap penghinaan,” ujar Primus.
Ia juga mempertanyakan kondisi ekonomi nasional yang menurutnya tidak sejalan dengan pelemahan mata uang Garuda.
“Apa yang terjadi sekarang, yang berhubungan dengan tugas dan fungsi Bank Indonesia, itu anomali. Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, tetapi nilai tukar rupiah kita jeblok, bahkan sekarang ada di level rekor terendah terhadap dolar,” tegasnya.
Primus turut menyoroti fakta bahwa pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, melainkan juga terhadap sejumlah mata uang lainnya seperti dolar Singapura, ringgit Malaysia, dolar Australia, hingga euro.
“Kenapa rupiah kita ini lemah? Kalau dibandingkan dengan dolar AS, sekarang selalu perbandingannya dengan dolar. Tapi faktanya, ini terhadap semua mata uang. Kita melemah terhadap Singapura, Australia, ringgit, riyal, apalagi dolar Hong Kong, euro. Saya masih ingat, euro waktu awal 2006 itu Rp7.000 per euro. Sekarang hampir Rp19.000 bahkan Rp20.000,” jelasnya.
Menurut Primus, kondisi tersebut membuat publik mulai mempertanyakan kredibilitas Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.
“Bank Indonesia sudah mengenyampingkan kredibilitasnya. Dan Anda sebagai pimpinan Bank Indonesia, sebagai tokoh utamanya, harus gentleman, Pak. Harus berani melawan, ada apa ini? Kenapa ini?” tuturnya.
Kritik serupa juga datang dari Wakil Ketua Komisi XI DPR, Hanif Dakiri. Ia menilai indikator yang digunakan Bank Indonesia tidak sejalan dengan kenyataan yang dirasakan masyarakat di lapangan.
“Masyarakat melihat rupiahnya tertekan, kemudian harga kebutuhan menjadi mahal, kemudian ekonomi riil juga jalannya agak tersendat, sentimen ekonominya juga agak melemah kan yang dirasain di lapangan seperti itu,” ujar Hanif.
Hanif juga mempertanyakan definisi “stabil” yang digunakan Bank Indonesia dalam melihat kondisi rupiah saat ini.
“Kita minta penjelasan Bapak, definisi stabil menurut BI, itu apa? Kalau persepsi publik kan rupiahnya melemah terus,” tutur politikus PKB tersebut.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai gejolak pasar yang terjadi belakangan ini lebih dipicu sentimen jangka pendek dibanding lemahnya fondasi ekonomi Indonesia.
Ia memastikan pemerintah tetap fokus menjaga pertumbuhan ekonomi nasional agar tidak terganggu tekanan global maupun dinamika pasar keuangan.
“Enggak apa-apa, nanti kita perbaiki. Sekarang fondasi ekonominya bagus, itu masalah sentimen jangka pendek,” kata Purbaya.
Menurutnya, pemerintah juga telah mulai melakukan langkah stabilisasi di pasar obligasi guna menjaga kepercayaan investor asing serta mengendalikan tekanan terhadap rupiah.
“Kita sudah masuk tetapi hanya sedikit. Mulai hari ini kita akan masuk lebih signifikan lagi sehingga pasar obligasi terkendali,” jelas Purbaya.
Di tengah situasi tersebut, tekanan eksternal juga semakin besar akibat memanasnya konflik geopolitik global. Harga minyak dunia melonjak tajam setelah ketegangan di Timur Tengah meningkat, termasuk serangan drone terhadap fasilitas strategis di Uni Emirat Arab dan memudarnya peluang perdamaian antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Kenaikan harga minyak global membuat kebutuhan impor energi Indonesia meningkat, sehingga memperbesar permintaan dolar AS dan ikut memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Dengan berbagai tantangan tersebut, perhatian pasar kini tertuju pada langkah Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, sekaligus membuktikan prediksi bahwa rupiah akan kembali menguat mulai pertengahan tahun ini.
Lan.











