majalahsuaraforum.com – Pelemahan tajam nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan menjadi perhatian serius pemerintah. Meski pasar keuangan mengalami tekanan cukup besar, pemerintah menilai kondisi tersebut lebih dipicu sentimen jangka pendek ketimbang memburuknya fundamental ekonomi nasional.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tetap optimistis terhadap ketahanan ekonomi Indonesia di tengah gejolak pasar global yang memicu tekanan pada sektor keuangan domestik.
Pada perdagangan Senin (18/5/2026), IHSG dibuka melemah 94,34 poin atau sekitar 1,40 persen ke level 6.447,97. Tekanan jual terus berlanjut hingga indeks sempat terperosok lebih dari 4 persen pada sesi perdagangan.
Di saat bersamaan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga mengalami pelemahan cukup dalam. Mata uang Garuda sempat menembus level Rp17.660 per dolar AS atau terdepresiasi sekitar 1,15 persen.
Menanggapi situasi tersebut, Purbaya meminta publik tidak terlalu khawatir karena pemerintah menilai pondasi ekonomi nasional masih dalam kondisi baik.
“Enggak apa-apa, nanti kita perbaiki. Sekarang fondasi ekonominya bagus, itu masalah sentimen jangka pendek,” kata Purbaya di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Menurut dia, prioritas utama pemerintah saat ini adalah menjaga agar pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga dan tidak terganggu oleh tekanan eksternal maupun dinamika pasar global.
“Saya fokus jaga fondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu,” ujarnya.
Selain menjaga stabilitas pertumbuhan, pemerintah juga mulai mengambil langkah intervensi di pasar obligasi guna menjaga kepercayaan investor, terutama investor asing yang masih memiliki kepemilikan besar pada surat utang negara.
Purbaya menyebut pemerintah telah mulai masuk ke pasar obligasi untuk melakukan stabilisasi, meski sebelumnya masih dilakukan dalam skala terbatas.
“Kita sudah masuk tetapi hanya sedikit. Mulai hari ini kita akan masuk lebih signifikan lagi sehingga pasar obligasi terkendali,” jelasnya.
Langkah stabilisasi tersebut diharapkan dapat menahan laju arus keluar modal asing yang berpotensi memperbesar tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan nasional secara keseluruhan.
Pemerintah juga berharap intervensi di pasar obligasi mampu membantu memulihkan kepercayaan pelaku pasar di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, termasuk terkait arah suku bunga Amerika Serikat dan tensi geopolitik internasional.
Meski pasar saham dan mata uang sedang bergejolak, pemerintah menegaskan kondisi ekonomi Indonesia secara umum masih berada dalam jalur yang aman dan terkendali.
Lan.











