majalahsuaraforum.com – Harga bahan pangan di Jalur Gaza melonjak tajam menyusul hancurnya sebagian besar lahan pertanian akibat serangan yang dilakukan Israel. Kondisi ini memicu krisis pangan terparah di wilayah tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).
Dalam laporan resminya yang dirilis pada Jumat (17/10/2025) dan dikutip dari Antara, Sabtu (18/10/2025), UNRWA menyatakan bahwa hampir seluruh lahan pertanian di Jalur Gaza kini hancur total atau tidak lagi dapat diakses oleh warga. Akibatnya, ribuan keluarga kehilangan sumber mata pencaharian utama mereka.
“Hampir seluruh lahan pertanian di Jalur Gaza sekarang hancur atau tidak dapat diakses. Sehingga warga Gaza kehilangan sumber penghasilan,” pernyataan UNRWA yang dirilis pada Jumat (17/10/2025).
Kondisi tersebut telah menyebabkan lonjakan harga pangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut UNRWA, situasi ini merupakan dampak langsung dari dua tahun perang yang terus berlangsung antara Israel dan Palestina, yang menghancurkan kehidupan serta kesejahteraan masyarakat di Jalur Gaza.
“Keluarga-keluarga di Palestina yang sebelumnya bergantung pada hasil panen dari lahan pertanian mereka di Gaza, sekarang tak lagi memiliki sumber pendapatan. Makanya tidak mampu membeli makanan, meski bahan pangan tersedia di pasaran,” tegas UNRWA.
Lembaga kemanusiaan tersebut juga menyoroti bahwa meskipun beberapa bahan makanan masih tersedia di pasar, daya beli warga menurun drastis karena ketiadaan pendapatan. Kondisi ini memperparah krisis kelaparan yang telah melanda Gaza sejak awal 2024.
Dalam unggahan terbarunya di platform X (sebelumnya Twitter), UNRWA memberikan gambaran konkret tentang kenaikan harga pangan di wilayah tersebut. Harga satu kilogram tomat yang sebelumnya hanya US$ 0,60 atau sekitar Rp 9.940, kini melonjak hingga US$ 15 atau setara Rp 248.350.
Kenaikan ekstrem tersebut menggambarkan betapa parahnya kerusakan di sektor pertanian Gaza, yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat setempat. Selain itu, akses terhadap bahan bakar, air bersih, dan pupuk pertanian juga sangat terbatas akibat blokade dan serangan udara yang menghancurkan infrastruktur vital.
“Sampai sektor pertanian Gaza dapat dibangun kembali, harus ada distribusi bantuan yang benar-benar disalurkan ke warga tanpa hambatan,” pungkas UNRWA.
UNRWA menegaskan bahwa langkah cepat untuk memulihkan sektor pertanian sangat diperlukan agar Gaza dapat kembali menghasilkan bahan pangan sendiri. Lembaga ini juga mendesak agar penyaluran bantuan kemanusiaan dilakukan tanpa gangguan atau pembatasan, guna memastikan seluruh bantuan sampai langsung kepada warga yang paling membutuhkan.
Sementara itu, berbagai lembaga kemanusiaan internasional lainnya terus menyerukan kepada komunitas global untuk mempercepat pengiriman bantuan makanan dan logistik ke Jalur Gaza. Tanpa intervensi segera, situasi kelaparan diperkirakan akan semakin memburuk dalam beberapa pekan ke depan.
Serangan berkelanjutan dari Israel sejak 2023 telah menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur penting, termasuk jaringan irigasi, gudang penyimpanan hasil panen, serta sarana transportasi pertanian. Hal ini membuat warga Gaza kian sulit memenuhi kebutuhan hidup dasar mereka di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Dengan situasi yang kian kritis, UNRWA kembali menegaskan pentingnya solidaritas internasional dan komitmen nyata dari negara-negara anggota PBB untuk membantu Gaza keluar dari krisis pangan yang mengancam kelangsungan hidup jutaan warganya.
Red.











