majalahsuaraforum.com – Purbaya Yudhi Sadewa yang baru saja dilantik sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani, langsung dihadapkan pada sejumlah pekerjaan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Salah satu persoalan utama yang menjadi sorotan adalah keberlanjutan sistem perpajakan Coretax.
Pakar Ekonomi Universitas Brawijaya (UB), Wildan Syafitri, menegaskan bahwa implementasi Coretax masih menyisakan banyak masalah di lapangan. Meskipun sistem ini dirancang agar lebih transparan dan akuntabel, namun kenyataannya justru menimbulkan berbagai keluhan dari para wajib pajak karena dinilai menyulitkan secara administratif.
“Sebelumnya lebih mudah dibandingkan sekarang. Meskipun transparan, tetapi kalau menyulitkan ya tetap tidak efektif. Banyak wajib pajak akhirnya harus keluar biaya tambahan untuk urusan administrasi,” ujar Wildan, Kamis (11/9/2025).
Menurut Wildan, hambatan administratif tersebut berpotensi mengganggu optimalisasi penerimaan negara. Padahal, Coretax diharapkan dapat menjadi pilar penting dalam memperkuat sistem perpajakan Indonesia.
Selain persoalan teknis Coretax, Wildan juga mengingatkan bahwa Kementerian Keuangan tidak bisa berjalan sendirian dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks. Perlambatan pertumbuhan ekonomi, tekanan global, serta meningkatnya jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) disebut membutuhkan kerja sama lintas kementerian.
“Pertumbuhan ekonomi kita agak menurun. Sehingga Kementerian Keuangan tidak bisa bekerja sendiri. Termasuk bagaimana meningkatkan realisasi pertumbuhan ekonomi, mendorong investasi, juga mengelola transparansi anggaran di tingkat daerah,” jelasnya.
Dengan situasi ekonomi yang masih penuh tantangan, publik kini menanti langkah konkret Purbaya Yudhi Sadewa. Keberhasilan dalam memperbaiki sistem Coretax dan memperkuat koordinasi dengan kementerian lain akan menjadi ujian awal yang menentukan arah kepemimpinannya di Kementerian Keuangan.
Pen. Lan.











