Majalahsuaraforum.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan adanya peningkatan signifikan terhadap jumlah korban jiwa di kalangan pekerja kemanusiaan sepanjang 2024. Laporan resmi PBB mencatat sedikitnya 383 staf meninggal dunia, hampir separuh di antaranya gugur saat menjalankan tugas di Gaza, Palestina.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan sekaligus Koordinator Bantuan Darurat, Tom Fletcher, menegaskan bahwa angka tersebut melonjak 31 persen dibanding tahun 2023. Ia menyebut situasi ini sebagai gambaran nyata dari kegagalan komunitas internasional dalam melindungi pekerja kemanusiaan.
“Dipicu oleh konflik yang tak henti-hentinya di Gaza, di mana 181 pekerja kemanusiaan tewas. Begitu juga dengan di Sudan, di mana 60 orang kehilangan nyawa mereka,” kata Tom, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (20/8/2025).
Menurut laporan PBB, Palestina menempati posisi pertama sebagai wilayah paling mematikan bagi pekerja kemanusiaan, disusul Sudan. Tom menambahkan bahwa sebagian besar korban merupakan staf lokal yang meninggal saat bertugas maupun ketika berada di rumah mereka.
Ia menekankan, serangan yang menimpa staf kemanusiaan tidak bisa dipandang sebelah mata. “Satu serangan saja sudah menjadi serangan terhadap kita semua. Sebagai komunitas kemanusiaan, kami menuntut agar para penguasa dan pihak-pihak yang berpengaruh bertindak demi kemanusiaan, melindungi warga sipil dan pekerja bantuan, serta meminta pertanggungjawaban para pelaku,” tegasnya.
Berdasarkan Basis Data Keamanan Pekerja Bantuan yang dikelola sejak 1997, jumlah korban jiwa pekerja PBB meningkat dari 293 orang pada 2023 menjadi 383 orang pada 2024. Sementara itu, hingga 14 Agustus 2025, tercatat sudah 265 staf kemanusiaan PBB meninggal dunia.
Salah satu insiden paling mematikan tahun 2025 terjadi pada 23 Maret 2025 di Rafah, Gaza Selatan. Saat itu, pasukan Israel menembaki kendaraan medis yang telah ditandai dengan jelas, menewaskan 15 petugas medis dan tim tanggap darurat.
Lonjakan kematian pekerja PBB ini mempertegas risiko besar yang dihadapi tenaga kemanusiaan di wilayah konflik, khususnya Gaza, yang hingga kini masih dilanda kekerasan berkepanjangan.
Pen. Red.











