Majalahsuaraforum.com – Krisis kemanusiaan di Gaza semakin memburuk akibat blokade Israel yang terus berlanjut. Dalam tiga hari terakhir, sedikitnya 21 anak dilaporkan meninggal dunia akibat kelaparan dan kekurangan gizi parah.
Warga Gaza saat ini menghadapi harga pangan yang sangat tinggi dan keterbatasan akses terhadap bantuan kemanusiaan. Banyak dari mereka merasa dikhianati oleh negara-negara Arab dan Muslim yang dinilai tidak memberikan bantuan yang cukup untuk menghentikan penderitaan mereka.
Muhammad Rosros, seorang warga Gaza, menceritakan bagaimana ia kehilangan dua anaknya dalam seminggu terakhir karena tidak mampu membeli makanan bergizi. “Setiap hari saya hanya bisa melihat anak-anak saya menangis kelaparan tanpa bisa berbuat apa-apa,” ujarnya dengan suara bergetar.
Senada dengan Rosros, Marwa al-Ghalban juga membagikan kisah pilunya. Ia kehilangan keponakannya yang berusia empat tahun akibat kekurangan gizi. “Kami menunggu bantuan, tetapi yang datang hanya janji-janji. Negara-negara Arab seolah menutup mata terhadap penderitaan kami,” katanya.
Banyak pihak mengkritik negara-negara Arab yang dianggap diam terhadap situasi di Gaza. Di media sosial, seruan untuk tindakan nyata dari komunitas internasional terus bergema, menuntut langkah konkret untuk menekan Israel membuka blokade dan mengizinkan distribusi bantuan pangan dan medis secara aman.
Para petugas medis di Gaza juga memperingatkan bahwa rumah sakit sudah tidak mampu menangani pasien dengan kondisi malnutrisi parah akibat kurangnya pasokan obat-obatan dan alat medis. Mereka menegaskan bahwa kebutuhan mendesak seperti susu bayi, gandum, obat antibiotik, dan cairan infus tidak lagi tersedia di banyak fasilitas kesehatan.
Situasi ini menggambarkan krisis kemanusiaan yang kian memprihatinkan di Gaza. Komunitas internasional didesak segera turun tangan untuk membantu warga Gaza mengatasi kelaparan yang terus merenggut nyawa, khususnya anak-anak, yang menjadi korban paling rentan dalam blokade berkepanjangan tersebut.
Pen. Red.











