Home / Ekonomi / Tekanan Rupiah Belum Reda, Pasar Soroti Risiko Fiskal dan Kebijakan Ekspor Nasional

Tekanan Rupiah Belum Reda, Pasar Soroti Risiko Fiskal dan Kebijakan Ekspor Nasional

majalahsuaraforum.com – Pergerakan nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan terbaru. Kondisi tersebut mencerminkan masih tingginya kekhawatiran pelaku pasar terhadap situasi ekonomi nasional maupun dinamika global yang belum stabil.

Sejumlah analis menilai pelemahan mata uang Indonesia tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga berkaitan dengan persepsi investor terhadap kebijakan ekonomi dan kondisi fiskal dalam negeri. Meski pemerintah bersama otoritas moneter telah melakukan berbagai langkah intervensi, tekanan terhadap rupiah dinilai masih cukup kuat.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa lembaga pemeringkat internasional S&P Global memberikan sinyal yang memunculkan kekhawatiran baru di kalangan investor. S&P disebut melihat adanya potensi penurunan peringkat utang Indonesia akibat risiko pelebaran defisit fiskal pemerintah.

Selain persoalan fiskal, target pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5,8 persen hingga 6 persen juga dianggap terlalu ambisius oleh sebagian pelaku pasar. Di tengah kondisi ekonomi dunia yang masih penuh tekanan, target tersebut dipandang sulit dicapai tanpa dukungan stabilitas global yang memadai.

Ibrahim juga menyoroti respons pasar terhadap kebijakan pengelolaan ekspor komoditas melalui sistem satu pintu yang berada di bawah koordinasi Danantara. Kebijakan itu disebut memunculkan kekhawatiran mengenai potensi monopoli perdagangan komoditas nasional.

Menurutnya, sentimen negatif tersebut ikut memicu keluarnya aliran modal asing dari pasar domestik atau capital outflow. Akibatnya, intervensi yang dilakukan Bank Indonesia maupun langkah operasi pasar Surat Berharga Negara oleh pemerintah belum mampu mengangkat posisi rupiah secara signifikan.

“Nah ini yang secara eksternal. Nah secara internal pun juga pidato presiden kemarin di DPR ini pun juga direview oleh pemerintah internasional salah satunya S&P Global yang kemungkinan besar akan menurunkan peringkat rating hutang Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi pasar pada pekan depan masih berpotensi bergerak fluktuatif. Berdasarkan analisis yang dilakukan, nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam rentang Rp17.680 hingga Rp17.800 per dolar Amerika Serikat.

Pelemahan rupiah yang terus berlangsung menjadi perhatian serius karena dapat berdampak terhadap berbagai sektor ekonomi nasional. Mulai dari kenaikan biaya impor, tekanan terhadap industri dalam negeri, hingga menurunnya tingkat kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Meski demikian, pemerintah bersama otoritas keuangan disebut masih terus berupaya menjaga kestabilan ekonomi nasional melalui kebijakan moneter dan fiskal agar tekanan terhadap nilai tukar rupiah tidak semakin melebar di tengah ketidakpastian global.

Lan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh