majalahsuaraforum.com – Produksi gula nasional berbasis tebu pada 2026 diproyeksikan mencapai sedikitnya 2,8 juta ton. Asosiasi Gula Indonesia (AGI) memperkirakan angka tersebut menjadi salah satu pencapaian tertinggi dalam kurun waktu sekitar 10 tahun terakhir.
Peningkatan produksi didukung oleh membaiknya rendemen tebu, bertambahnya luas lahan perkebunan, serta peningkatan produktivitas tanaman.
Sekretaris Jenderal AGI Dwi Purnomo menyampaikan, hingga menjelang berakhirnya musim giling, produksi gula nasional telah berada di kisaran 2,6 juta hingga 2,7 juta ton. Jumlah tersebut diperkirakan masih bertambah setelah seluruh pabrik gula menyelesaikan kegiatan penggilingan pada 2026.
“Hingga menjelang akhir musim giling, produksi gula berbasis tebu diperkirakan mencapai sedikitnya 2,8 juta ton, menjadi salah satu capaian terbaik dalam kurun waktu sekitar satu dekade terakhir,” kata Dwi Purnomo dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (7/11/2026).
Menurut Dwi, perkembangan produksi gula tahun ini menunjukkan hasil yang positif. Meskipun sejumlah pabrik masih menjalankan proses penggilingan tebu, capaian sementara tersebut dinilai mencerminkan peningkatan kinerja operasional industri gula nasional.
“Menurut saya cukup baik. Artinya kebijakan yang sudah dijalankan selama ini telah menghasilkan performa operasional produksi yang bagus dari sisi teknis,” ujar Dwi.
Atas perkembangan tersebut, AGI memberikan apresiasi terhadap kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan) yang dinilai berkontribusi dalam mendorong peningkatan produksi gula selama musim giling 2026.
Dwi menjelaskan, pertumbuhan produksi tidak terlepas dari sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk pelaksanaan program bongkar ratun dan perluasan areal perkebunan tebu. Selain itu, kondisi cuaca yang dipengaruhi fenomena El Nino turut berdampak terhadap peningkatan rendemen atau kandungan gula pada tanaman tebu.
“Tahun ini rendemennya bagus. Salah satunya karena faktor El Nino yang membuat iklim lebih kering sehingga kandungan gula dalam tanaman meningkat,” ucapnya.
Kendati demikian, kondisi cuaca yang lebih kering juga membawa dampak terhadap bobot tebu yang mengalami penurunan. Namun, secara keseluruhan produksi gula tetap menunjukkan peningkatan karena luas lahan tanaman tebu mengalami penambahan.
Harga Gula Dinilai Menguntungkan Petani dan Industri
Dari perspektif industri, AGI menilai kondisi usaha pergulaan nasional sepanjang 2026 cukup kondusif. Peningkatan produksi disertai dengan harga gula dan tetes tebu yang berada pada tingkat menguntungkan bagi petani maupun pengelola pabrik gula.
Harga lelang gula bahkan telah mencapai lebih dari Rp 17.000 per kilogram. Nilai tersebut berada jauh di atas harga acuan pembelian gula di tingkat produsen yang ditetapkan sebesar Rp 14.500 per kilogram.
Dwi menilai situasi tersebut memberikan prospek positif bagi keberlanjutan industri gula dalam negeri. Peningkatan pendapatan yang diterima petani dan pabrik gula diharapkan dapat mendorong lebih banyak petani untuk menanam tebu pada musim berikutnya.
“Dengan harga gula yang baik, harga tetes yang baik, dan produksi nasional yang meningkat, harapannya pendapatan petani tebu maupun pabrik gula juga meningkat. Tahun depan mestinya akan lebih banyak petani yang menanam tebu dan luas arealnya bertambah,” katanya.
AGI juga menyoroti pentingnya konsistensi pemerintah dalam menjalankan program bongkar ratun. Program tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang berperan dalam meningkatkan produktivitas tanaman tebu sehingga perlu dipertahankan untuk memperkuat pencapaian target swasembada gula nasional.
Meski produksi terus menunjukkan perkembangan, Dwi mengingatkan bahwa industri gula masih menghadapi sejumlah tantangan ke depan. Pemerintah tidak hanya perlu mengejar swasembada gula konsumsi, tetapi juga menargetkan kemandirian pasokan gula untuk kebutuhan industri.
Selain itu, pemerintah tengah mengembangkan program bioetanol melalui penerapan kewajiban pencampuran etanol ke dalam bahan bakar. Kebijakan tersebut direncanakan meningkat secara bertahap dari E5 menuju E20.
“Tantangannya cukup berat, tetapi mudah-mudahan dengan kerja sama semua pihak target-target tersebut bisa dicapai,” ujarnya.
AGI Minta Pemerintah Jaga Stabilitas Industri Gula
Menghadapi perkembangan industri gula ke depan, AGI berharap pemerintah tetap mempertahankan iklim usaha yang mendukung petani tebu dan pelaku industri dalam negeri.
Dwi berpandangan bahwa kebijakan yang berpotensi mengurangi pendapatan petani maupun industri gula sebaiknya dihindari. Sebaliknya, langkah yang mampu menjaga kestabilan harga gula serta produk turunan tebu perlu terus dipertahankan.
Menurutnya, peningkatan produksi pada 2026 menjadi indikasi bahwa kebijakan yang mendukung sektor pergulaan nasional dapat memberikan hasil positif terhadap kinerja industri.
Karena itu, AGI berharap perhatian pemerintah terhadap keberlangsungan usaha petani tebu dan industri gula tetap terjaga. Dengan demikian, peningkatan produksi yang telah dicapai tahun ini dapat berlanjut pada periode mendatang.
“Yang penting jangan ada kebijakan yang menimbulkan kejutan dan mengganggu stabilitas industri. Kondisi yang kondusif seperti sekarang perlu dipertahankan agar petani dan industri memiliki kepastian untuk terus meningkatkan produksi,” kata Dwi.
lan.










