(Gedungpentagon)Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Konflik Amerika Serikat dengan Iran di kawasan Timur Tengah disebut memberikan dampak besar terhadap kekuatan militer dan anggaran Washington. Laporan terbaru Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengungkap kerusakan terhadap sejumlah fasilitas militer AS sekaligus sejumlah armada udara yang digunakan selama konflik.
Serangan balasan Iran dilaporkan menyebabkan kerusakan hingga kehancuran pada ratusan bangunan dan fasilitas yang berada di sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Selain infrastruktur, sejumlah pesawat tempur milik militer AS juga mengalami kerusakan signifikan hingga akhir Juni.
Temuan tersebut tercantum dalam laporan Lead Inspector General yang diserahkan kepada Kongres Amerika Serikat. Berdasarkan laporan yang dikutip CNBC, Selasa (15/9/2026), total biaya operasi militer serta dampak konflik dengan Iran diperkirakan mencapai 33,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp518 triliun.
Nilai tersebut turut mencakup kerusakan fisik yang diperkirakan mencapai 184 juta dolar AS terhadap fasilitas diplomatik Amerika Serikat di empat negara kawasan, yakni Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Besarnya intensitas pertempuran juga berdampak terhadap ketersediaan logistik persenjataan militer Amerika Serikat. Pentagon mencatat penggunaan amunisi dalam jumlah besar selama konflik telah menimbulkan kekurangan pada sejumlah persediaan strategis atau strategic inventory shortfalls.
Situasi tersebut sekaligus menunjukkan adanya hambatan pada rantai pasokan industri pertahanan Amerika Serikat. Industri pertahanan menghadapi sejumlah bottlenecks yang membuat proses pemenuhan kembali kebutuhan amunisi strategis menjadi tantangan.
Di tengah kekhawatiran mengenai kondisi persediaan persenjataan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyampaikan pernyataan melalui media sosial sebelum laporan resmi Pentagon dipublikasikan.
Trump menyebut industri pertahanan Amerika Serikat sedang beroperasi dengan kapasitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan persenjataan militer. Pernyataan tersebut disampaikan untuk merespons kekhawatiran mengenai ketersediaan stok senjata Amerika Serikat.
“Amerika Serikat saat ini sedang memproduksi lebih banyak Senjata Istimewa dan Elit (Exquisite and Elite Weapons) dibandingkan waktu kapan pun dalam sejarah kita,” tulis Donald Trump dalam unggahannya untuk menepis kekhawatiran publik mengenai ketersediaan stok senjata.
Namun, laporan resmi Pentagon juga mencatat sejumlah kerugian pada armada udara militer Amerika Serikat. Salah satu catatan yang menjadi perhatian adalah kerusakan sebuah jet tempur generasi kelima F-35A akibat tembakan musuh.
Peristiwa tersebut disebut menjadi yang pertama dalam sejarah penerbangan militer ketika pesawat F-35A mengalami kerusakan akibat serangan lawan. Selain F-35A, empat jet tempur F-15E Strike Eagle dan satu pesawat serang darat A-10 Thunderbolt II dilaporkan hancur sepenuhnya dalam rangkaian serangan selama konflik.
Kerusakan dan kehilangan armada tersebut juga menimbulkan konsekuensi finansial yang besar. Berdasarkan data Angkatan Udara Amerika Serikat, satu unit F-35A memiliki nilai sekitar 92 juta dolar AS atau setara dengan sekitar Rp1,4 triliun.
Sementara itu, harga satu unit F-15E Strike Eagle diperkirakan mencapai 31,1 juta dolar AS berdasarkan patokan harga pada 1998.
Kerugian yang dialami armada udara AS juga mencakup sejumlah pesawat pendukung dan sistem udara lainnya. Laporan tersebut mencatat sebanyak tujuh pesawat tanker pengisi bahan bakar KC-135 mengalami kerusakan atau kehancuran selama konflik.
Selain itu, tujuh helikopter militer serta lebih dari 30 pesawat nirawak atau drone juga dilaporkan jatuh dalam rangkaian pertempuran antara Amerika Serikat dan Iran.
Rangkaian kerusakan tersebut menggambarkan besarnya dampak konflik terhadap aset militer Amerika Serikat, baik dari sisi fasilitas, armada udara, maupun ketersediaan persenjataan dan amunisi strategis.
Red.











