majalahsuaraforum.com – Presiden Prabowo Subianto meminta aparat penegak hukum membawa tiga orang yang diduga berkaitan dengan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau ke Jakarta. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam praktik pembakaran lahan.
Perintah tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin rapat penanganan karhutla di Posko Aju, Riau, Senin (24/8/2026).
Dalam rapat itu, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan melaporkan dugaan pola pembakaran lahan yang melibatkan masyarakat dalam pembukaan lahan. Berdasarkan hasil pemantauan kepolisian, seluruh kasus karhutla yang terjadi di Riau disebut berkaitan dengan aktivitas manusia.
“Untuk upaya pencegahan sekaligus memutus mata rantai karhutla yang disebabkan, semuanya disebabkan oleh manusia, Bapak. Setelah kita melihat data di 2021-2022 pada saat COVID itu zero Karhutla. Jadi semua saat ini yang dilakukan karhutla, semuanya dari manusia baik yang disengaja maupun tidak disengaja,” kata Herry dalam laporannya.
Herry menjelaskan bahwa aparat telah melakukan sejumlah langkah pencegahan untuk mengurangi risiko kebakaran berulang di lokasi yang sebelumnya terbakar. Salah satunya dengan memasang 513 papan peringatan di sejumlah titik.
Papan tersebut dipasang untuk mencegah masyarakat kembali memanfaatkan area bekas kebakaran, termasuk melakukan penanaman atau aktivitas pembukaan lahan.
“Jadi, bekas kebakaran tidak boleh ada lagi yang melakukan penanaman. Karena ini biasa digunakan modus, modus oleh perusahaan besar, menggunakan petani atau masyarakat kecil, pura-pura memancing di situ kemudian melakukan pembakaran,” ujarnya.
Polisi Dalami Dugaan Keterlibatan Pihak Lain Dalam laporan kepada Presiden, Herry menyebut aparat menemukan sejumlah orang berada di sekitar lokasi kebakaran meski mereka tidak memiliki lahan di kawasan tersebut.
Ia juga menyampaikan bahwa pada 2025, Kementerian Lingkungan Hidup telah memberikan sanksi kepada lima perusahaan yang memiliki perkebunan kelapa sawit.
Meski demikian, Herry menegaskan bahwa hingga saat ini polisi belum menemukan bukti yang menunjukkan perusahaan menjadi penyebab langsung karhutla di Riau pada 2026.
“Sampai saat ini (tahun 2026) belum ada, tapi beberapa tersangka yang 2025 setelah kita lakukan investigasi, ada yang tidak mempunyai kebun di situ. Ada dua atau tiga orang. Tetapi dia ada di situ padahal alasan dia hanyalah untuk memancing padahal tidak ada lokasi memancing di situ,” jelasnya.
Laporan tersebut kemudian mendapat perhatian dari Prabowo. Presiden meminta agar tiga orang yang diduga berkaitan dengan pembakaran lahan pada 2025 dibawa ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan dan pendalaman.
Prabowo ingin aparat mengusut lebih jauh kemungkinan adanya pihak lain yang berada di balik praktik pembakaran tersebut.
“Tolong dibawa ke Jakarta ya. Tolong dikirim ke Jakarta, Kapolri ya, kita dalami di sini (Jakarta),” ujar Prabowo.
BIN Diminta Ikut Mendalami Kasus Selain meminta pemeriksaan lebih lanjut terhadap tiga orang tersebut, Prabowo juga menginstruksikan agar Badan Intelijen Negara (BIN) dilibatkan dalam proses pendalaman.
Keterlibatan BIN diharapkan dapat membantu aparat memperoleh informasi yang lebih komprehensif mengenai pola pembakaran lahan dan kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat.
“Nanti pendalamannya saya juga minta BIN ikut, ya,” ucapnya.
Pemerintah dan aparat penegak hukum kini terus melakukan upaya pencegahan serta penindakan terhadap karhutla di Riau. Selain penegakan hukum, pemasangan tanda peringatan dan pengawasan terhadap kawasan yang sebelumnya terbakar menjadi bagian dari langkah untuk mencegah terjadinya pembakaran berulang.
Prabowo meminta penanganan karhutla dilakukan secara serius agar praktik pembakaran lahan dapat dihentikan sekaligus mengungkap pihak-pihak yang berada di balik kejadian tersebut.
Hil.











