Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Indonesia masuk dalam daftar negara yang akan disinggahi dalam pelaksanaan Pacific Partnership 2026, sebuah misi kemanusiaan dan peningkatan kesiapsiagaan bencana yang dipimpin oleh Angkatan Laut Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik. Program tahunan tersebut melibatkan berbagai negara mitra dan sekutu dengan fokus pada kerja sama kemanusiaan, kesehatan, teknik, serta penguatan kapasitas tanggap darurat.
Selain Indonesia, sejumlah negara lain yang menjadi bagian dari rute pelaksanaan misi tahun ini meliputi Vietnam, Filipina, Timor Leste, Malaysia, dan Vietnam. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung selama lima bulan dengan melibatkan ratusan personel dari berbagai negara.
Kapten Robert Reyes menjelaskan bahwa Pacific Partnership 2026 dirancang untuk memperkuat kolaborasi regional sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program yang menyentuh kebutuhan langsung di lapangan.
“Apa yang akan kami bawa tahun ini secara keseluruhannya adalah 300 personel misi yang akan berpartisipasi dalam tujuh persinggahan misi dalam periode lima bulan,” ujar Reyes dalam konferensi pers virtual, Rabu (17/6/2026).
Libatkan Berbagai Negara Mitra Menurut Reyes, misi tahun ini tidak hanya melibatkan personel dari Amerika Serikat, tetapi juga mendapat dukungan dari sejumlah negara sahabat dan mitra strategis. Mereka turut mengirimkan personel maupun aset untuk mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan yang telah direncanakan.
Beberapa negara yang berpartisipasi antara lain Australia, Kanada, Fiji, Jerman, Jepang, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Inggris. Keterlibatan banyak negara tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam membangun ketahanan kawasan menghadapi berbagai tantangan kemanusiaan dan bencana alam.
Ratusan personel yang terlibat dijadwalkan memulai rangkaian kegiatan dengan tiba di Vietnam sebagai lokasi persinggahan pertama pada pertengahan Juni 2026.
Fokus pada Kesehatan dan Kesiapsiagaan Bencana Pacific Partnership dikenal sebagai misi bantuan kemanusiaan dan sipil multinasional terbesar yang rutin dilaksanakan setiap tahun di kawasan Indo-Pasifik. Program ini mencakup berbagai kegiatan, mulai dari layanan kesehatan, pelatihan teknis, penjangkauan masyarakat, hingga peningkatan kemampuan menghadapi bencana.
Melalui kerja sama lintas negara, program tersebut bertujuan memperkuat interoperabilitas atau kemampuan bekerja bersama antarnegara, sekaligus meningkatkan kapasitas institusi lokal dalam menghadapi situasi darurat.
Selain memberikan manfaat langsung kepada masyarakat di negara tujuan, kegiatan ini juga menjadi sarana berbagi pengalaman dan pengetahuan antara personel militer, tenaga kesehatan, insinyur, serta berbagai pihak yang terlibat dalam penanganan bencana.
Berawal dari Respons Tsunami 2004 Program Pacific Partnership memiliki sejarah panjang yang berakar dari operasi bantuan kemanusiaan pascatsunami besar yang terjadi pada Desember 2004. Bencana tersebut melanda sejumlah negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara serta menimbulkan korban jiwa dan kerusakan yang sangat besar.
Pengalaman dalam operasi bantuan tersebut kemudian mendorong terbentuknya program kerja sama kemanusiaan yang berkelanjutan guna meningkatkan kesiapan negara-negara di kawasan menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
Dimulai dari California Menuju Filipina Pelaksanaan Pacific Partnership 2026 secara resmi dimulai ketika personel Angkatan Laut Amerika Serikat berangkat dari San Diego, California, pada 27 Mei 2026. Setelah keberangkatan tersebut, Filipina ditetapkan sebagai pusat koordinasi utama untuk mendukung jalannya seluruh rangkaian kegiatan selama misi berlangsung.
Dengan keterlibatan berbagai negara dan cakupan program yang luas, Pacific Partnership 2026 diharapkan dapat memperkuat hubungan kerja sama internasional sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan kawasan Indo-Pasifik dalam menghadapi berbagai tantangan kemanusiaan dan kebencanaan di masa depan.
Red.











