majalahsuaraforum.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian serius pemerintah di tengah kondisi El Nino yang melanda Indonesia. Hingga Senin (10/8/2026), luas wilayah hutan yang terbakar telah mencapai lebih dari 107.000 hektare.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menyampaikan bahwa kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian karena fenomena El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
“Sampai dengan hari ini, wilayah (hutan) kita di Indonesia ini yang terbakar terhitung 107.000 hektare lebih,” ujar Djamari di Gedung Utama Kemenko Polkam, Jakarta Pusat, Senin (10/8/2026).
Menurut Djamari, El Nino yang terjadi saat ini tergolong sangat kuat. Kondisi tersebut diperkirakan dapat berlangsung hingga awal September atau Oktober sehingga potensi meluasnya kebakaran hutan dan lahan masih perlu diantisipasi.
Pemerintah pun mulai meningkatkan pengerahan personel dan peralatan untuk menangani sekaligus mencegah agar karhutla tidak semakin meluas.
“Karena kesungguhan kita semua, kita sudah mulai mengerahkan banyak sekali tenaga, alat-alat peralatan untuk itu,” kata dia.
Puluhan Helikopter Dikerahkan Djamari menjelaskan bahwa berbagai langkah telah dilakukan pemerintah sebagai bagian dari operasi pencegahan dan penanganan karhutla.
Untuk mendukung operasi dari udara, pemerintah mengerahkan 43 helikopter yang tergabung dalam Satgas Udara. Selain itu, terdapat sekitar 10 hingga 15 pesawat jenis fixed-wing yang penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Tidak hanya mengandalkan operasi udara, pemerintah juga memperkuat Satgas Darat dengan berbagai sumber daya untuk mengantisipasi dan menangani kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah.
Namun, salah satu tantangan yang dihadapi petugas adalah ketersediaan air di lokasi kebakaran. Kondisi kekeringan membuat sumber air di sejumlah wilayah mulai berkurang.
“Sementara memang air juga sekarang sudah agak kurang di darat kita temukan. Tapi kita masih punya flexible tank yang bisa kita bawa, kita kedepankan, dan flexible tank nanti diisi dengan cara yang lain,” ungkapnya.
Pemerintah Manfaatkan Sumur untuk Pasokan Air Untuk mengatasi keterbatasan sumber air, pemerintah tidak hanya mengandalkan sumber air yang tersedia di permukaan. Djamari mengatakan pihaknya juga memanfaatkan sumur yang berada di sejumlah daerah.
Bahkan, pemerintah menyiapkan pembuatan sumur baru sebagai salah satu langkah untuk memastikan kebutuhan air bagi penanganan karhutla tetap tersedia.
Pemanfaatan sumber air tersebut dilakukan untuk mendukung petugas yang berada di lapangan, terutama ketika kondisi sumber air alami mulai mengalami penurunan akibat kemarau dan dampak El Nino.
Koordinasi Daerah Terus Diperkuat Selain pengerahan personel dan peralatan, pemerintah juga mengandalkan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menghadapi ancaman karhutla.
Djamari menyebut koordinasi di daerah melibatkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) bersama berbagai unsur masyarakat. Kerja sama tersebut dinilai penting agar penanganan kebakaran dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.
“Koordinasi untuk penanganan ini dilakukan, kalau di daerah kita ketahui ada Forkopimda dengan berbagai macam unsur yang ada di masyarakat, di sana sampai dengan saat ini berjalan dengan baik,” tandasnya.
Dengan luas hutan yang terbakar telah menembus 107.000 hektare dan ancaman El Nino yang diperkirakan masih berlangsung hingga September atau Oktober, pemerintah terus meningkatkan kesiapsiagaan. Pengerahan kekuatan udara dan darat, penyediaan sumber air, serta penguatan koordinasi daerah menjadi bagian dari strategi untuk mencegah karhutla meluas.
Red.










