Home / Kabar Berita / Israel Kembali Gempur Lebanon Selatan, Korban Sipil Berjatuhan

Israel Kembali Gempur Lebanon Selatan, Korban Sipil Berjatuhan

Foto. Ist

majalahsuaraforum.com – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Israel melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah selatan Lebanon. Serangan tersebut terjadi hanya sehari setelah kedua negara menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama 45 hari dalam pertemuan yang berlangsung di Washington, Amerika Serikat, pada April 2026.

Perpanjangan masa gencatan senjata sebelumnya disambut positif oleh delegasi negosiasi Lebanon yang berada di Washington pada Jumat (15/5/2026). Pemerintah Lebanon berharap kesepakatan itu mampu membuka jalan menuju stabilitas keamanan yang lebih baik di kawasan perbatasan.

“Perpanjangan gencatan senjata dan pembentukan jalur keamanan yang difasilitasi AS memberikan ruang bernapas yang penting bagi warga negara kita, memperkuat lembaga negara, dan memajukan jalur politik menuju stabilitas yang langgeng,” bunyi pernyataan resmi Kantor Kepresidenan Lebanon.

Namun situasi kembali memanas setelah serangan udara Israel menghantam sejumlah wilayah di Lebanon Selatan. Berdasarkan laporan Kantor Berita Nasional Lebanon yang dikutip Al Jazeera, sedikitnya tiga orang tewas dalam serangan di kota Tayr Falsayh, distrik Tyre.

Korban meninggal terdiri atas seorang perempuan, putranya, serta seorang paramedis yang berada di lokasi saat serangan terjadi. Selain korban jiwa, sedikitnya lima warga sipil lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Hingga kini, tim penyelamat masih berupaya mengevakuasi korban dari reruntuhan bangunan yang hancur akibat bombardir.

Di lokasi berbeda, serangan udara Israel juga dilaporkan menewaskan pasangan suami istri di kota Haboush, Lebanon Selatan. Sementara itu, militer Israel pada Sabtu (16/5/2026) mengonfirmasi seorang perwiranya turut tewas setelah menjadi sasaran serangan pesawat nirawak atau drone di wilayah Lebanon Selatan.

Pada Sabtu pagi, pesawat tempur Israel kembali menggempur kota Yohmor al-Shaqif. Sedikitnya lima desa lain di wilayah selatan Lebanon juga menjadi sasaran pemboman dalam operasi militer tersebut.

Militer Israel kemudian mengeluarkan perintah evakuasi baru bagi warga di sembilan desa sekitar Sidon dan Nabatieh. Beberapa wilayah yang masuk dalam peringatan pengungsian di antaranya Qaaqaaiyet, al-Snoubar, Kaouthariyet al-Saiyad, al-Marwaniyah, dan al-Ghassaniyah.

Selain serangan udara, artileri berat Israel juga menghantam kawasan Kfar Tebnit, Arnoun, serta jalan penghubung Arnoun-Kfar Tebnit. Pihak militer Israel menyebut operasi itu ditujukan untuk menghancurkan infrastruktur milik Hezbollah di beberapa titik Lebanon Selatan.

Perpanjangan gencatan senjata sebelumnya dirancang untuk membuka jalur keamanan yang dimediasi oleh Amerika Serikat dan dijadwalkan mulai berlaku pada 29 Mei 2026. Putaran lanjutan pembicaraan antara kedua pihak juga direncanakan berlangsung pada 2 hingga 3 Juni 2026 di Washington.

Meski demikian, laporan dari NNA menyebut Hezbollah menolak proses negosiasi tersebut. Penolakan itu dipicu oleh masih berlangsungnya serangan Israel ke Lebanon Selatan serta dugaan pendudukan sebagian wilayah Lebanon meskipun gencatan senjata seharusnya sudah mulai berlaku sejak 17 April 2026.

Situasi terbaru ini menimbulkan kekhawatiran internasional karena berpotensi memperburuk konflik berkepanjangan di kawasan perbatasan Israel-Lebanon dan mengancam keselamatan warga sipil di wilayah terdampak.

Red.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh