Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Kondisi kemanusiaan di Lebanon kembali menjadi sorotan dunia setelah laporan terbaru menunjukkan bahwa kekerasan masih terus menelan korban jiwa anak-anak, meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diberlakukan.
Berdasarkan laporan United Nations Children’s Fund (UNICEF), sedikitnya 59 anak dilaporkan menjadi korban dalam kurun waktu satu pekan terakhir. Korban tersebut mencakup anak-anak yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka akibat rentetan konflik yang masih berlangsung.
Situasi ini menimbulkan keprihatinan mendalam karena gencatan senjata yang diharapkan menjadi titik jeda kekerasan justru belum mampu menghentikan jatuhnya korban sipil, terutama anak-anak yang seharusnya berada dalam lingkungan aman.
Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon turut memperkuat gambaran buruk situasi tersebut. Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada tengah malam 17 April 2026, sedikitnya 23 anak dilaporkan tewas dan 93 lainnya mengalami luka-luka.
Jika dihitung secara keseluruhan sejak 2 Maret 2026, jumlah korban anak-anak di Lebanon telah mencapai angka yang sangat besar, yakni 200 anak meninggal dunia dan 806 lainnya terluka akibat konflik yang terus berlanjut.
Pada eskalasi terbaru yang terjadi Rabu (13/5/2026), serangan militer di wilayah selatan dan tengah Lebanon kembali menimbulkan korban jiwa. Sedikitnya 33 orang dilaporkan tewas, termasuk perempuan dan anak-anak. Data ini dikonfirmasi oleh Pusat Operasi Darurat Kesehatan Masyarakat Lebanon serta sejumlah media lokal.
Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Edouard Beigbeder, mengecam keras kondisi tersebut. Ia menegaskan bahwa gencatan senjata seharusnya menjadi momentum pemulihan, bukan sekadar jeda sebelum kekerasan kembali terjadi.
“Anak-anak tewas dan terluka ketika mereka seharusnya kembali ke ruang kelas, bermain bersama teman-teman, dan pulih dari ketakutan serta kekacauan yang telah berlangsung berbulan-bulan,” ujar Beigbeder dengan nada getir, Rabu (13/5/2026).
Ia juga menyoroti dampak jangka panjang yang dialami para penyintas, terutama trauma psikologis yang berpotensi berlangsung seumur hidup. Menurutnya, luka fisik dapat diobati, tetapi dampak mental jauh lebih sulit dipulihkan.
UNICEF juga mengingatkan adanya ancaman serius terhadap kesehatan mental anak-anak di Lebanon. Lebih dari 770 ribu anak dilaporkan mengalami tekanan psikologis berat akibat paparan kekerasan, pengungsian, dan kehilangan anggota keluarga.
Gejala yang muncul di antaranya kecemasan berlebihan, ketakutan, gangguan tidur, mimpi buruk, hingga rasa putus asa yang mendalam. Kondisi ini juga dialami oleh para pengasuh yang terdampak situasi konflik berkepanjangan.
Melihat kondisi tersebut, UNICEF dan berbagai pihak internasional menilai bahwa gencatan senjata yang ada saat ini belum memberikan perlindungan nyata bagi warga sipil, khususnya anak-anak. Mereka mendesak adanya pengawasan dan tindakan nyata agar kesepakatan damai benar-benar dihormati di lapangan.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik di Lebanon masih menyisakan krisis kemanusiaan yang serius, dengan anak-anak sebagai kelompok paling rentan yang terus menjadi korban di tengah ketidakpastian keamanan.
Red.











