Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Pemerintah Iran menegaskan bahwa upaya mengakhiri konflik di kawasan Timur Tengah tidak dapat dilakukan tanpa adanya pengakuan terhadap hak-hak Iran serta kompensasi atas dampak perang yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Teheran juga menuntut pengakuan atas perannya dalam menjaga keamanan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Dalam pernyataan terbarunya, Iran menilai keamanan Selat Hormuz merupakan tanggung jawab negara-negara kawasan dan tidak seharusnya berada di bawah dominasi pihak asing. Namun, sikap tersebut mendapat penolakan dari pejabat Amerika Serikat yang menganggap kontrol semacam itu sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima”.
Meski menghadapi penolakan dari Washington, pemerintah Iran tetap mempertahankan posisinya bahwa stabilitas kawasan hanya bisa dicapai apabila negara-negara regional diberikan kewenangan lebih besar dalam menjaga keamanan perairan tersebut.
Ketegangan besar di kawasan ini disebut bermula pada 28 Februari ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Dalam konflik tersebut, berbagai fasilitas penting di Iran dilaporkan menjadi sasaran, mulai dari situs nuklir, sekolah, rumah sakit, hingga infrastruktur sipil lainnya.
Iran juga menyebut serangan itu menyebabkan gugurnya pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Sebagai balasan atas serangan tersebut, militer Iran meluncurkan operasi militer besar bertajuk Operasi Janji Sejati 4. Dalam operasi itu, Teheran mengklaim telah melakukan 100 gelombang serangan terhadap target-target lawan.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa penghentian perang tidak cukup hanya melalui perundingan diplomatik. Menurut Teheran, pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kerusakan akibat serangan harus memberikan kompensasi penuh atas dampak yang ditimbulkan.
Selain persoalan ganti rugi, Iran juga menekankan bahwa pembicaraan damai di masa mendatang harus dilandasi penghormatan terhadap hak dan kedaulatan negara tersebut. Pemerintah Iran menolak segala bentuk negosiasi yang dilakukan melalui tekanan politik maupun ancaman militer.
Hingga saat ini, Teheran belum memastikan apakah akan ada putaran baru pembicaraan dengan pihak-pihak terkait. Namun, pejabat Iran menegaskan bahwa jalur diplomasi tetap terbuka selama dilakukan secara setara dan menghormati kepentingan nasional Iran.
Ketegangan di kawasan Selat Hormuz sendiri terus menjadi perhatian dunia internasional karena jalur tersebut merupakan titik vital distribusi minyak dan energi global. Situasi yang belum stabil di kawasan itu dikhawatirkan dapat memengaruhi pasokan energi dunia serta memperbesar risiko konflik regional yang lebih luas.
Red.











