Home / Olahraga / Taufik Hidayat Soroti Ketertinggalan Tunggal Putra Indonesia dari Prancis Pasca Thomas Cup 2026

Taufik Hidayat Soroti Ketertinggalan Tunggal Putra Indonesia dari Prancis Pasca Thomas Cup 2026

majalahsuaraforum.com – Kegagalan tim bulu tangkis putra Indonesia di ajang Thomas Cup 2026 memunculkan evaluasi besar di tubuh Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Wakil Ketua Umum I PBSI, Taufik Hidayat, secara terbuka mengakui bahwa sektor tunggal putra Indonesia saat ini tertinggal dibandingkan negara-negara Eropa, khususnya Prancis, yang mengalami perkembangan sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi tersebut menjadi sorotan setelah Indonesia harus tersingkir di fase grup Thomas Cup 2026 usai kalah telak 1-4 dari Prancis pada pertandingan penentuan. Hasil itu sekaligus mencatat sejarah buruk bagi Indonesia karena untuk pertama kalinya sejak debut pada 1958 gagal melaju ke babak selanjutnya dari fase grup.

Dalam evaluasinya, Taufik menilai kekuatan tunggal putra Prancis kini berkembang luar biasa. Negara yang sebelumnya tidak terlalu diperhitungkan dalam persaingan elite bulu tangkis dunia itu kini justru memiliki beberapa pemain papan atas dunia.

Tiga tunggal putra Prancis, yakni Christo Popov, Toma Junior Popov, dan Alex Lanier, kini berhasil menembus jajaran pemain elite dunia. Bahkan dua nama pertama sudah berada di posisi 10 besar ranking dunia BWF.

Menurut Taufik, perkembangan atlet-atlet Prancis tidak lepas dari peningkatan kualitas permainan dan metode latihan yang terus berkembang. Ia pun meminta para pelatih Indonesia ikut meningkatkan kualitas pembinaan agar para pemain muda bisa berkembang lebih cepat.

“Ya itu, kadang kan di sini pelatih selalu minta anaknya untuk upgrade cara mainnya gimana. Saya juga minta pelatih juga harus upgrade juga, jangan mainnya begitu lagi begitu lagi. Nah di sini juga ke depannya kita akan sama,” kata Taufik Hidayat saat menanggapi perkembangan pesat tunggal putra Prancis di Jakarta, Jumat (9/5/2026).

Taufik kemudian membandingkan perkembangan pemain muda Indonesia, Alwi Farhan, dengan pebulu tangkis muda Prancis, Alex Lanier. Keduanya diketahui berasal dari generasi usia yang hampir sama, namun Lanier dinilai berkembang lebih cepat dan lebih matang dalam permainan.

Menurut Taufik, secara fisik maupun kualitas permainan, perbedaan keduanya kini terlihat cukup signifikan dibanding beberapa tahun lalu.

“Dulu mungkin kalau lihat ada fotonya dulu Alwi sebelahnya, badannya hampir sama deh besarnya. Sekarang kan beda jauh. Terus juga sekarang permainannya juga dia lebih, agak cepat menonjolnya juga,” ujar peraih medali emas Olimpiade Athena 2004 tersebut.

Melihat kondisi itu, Taufik menegaskan PBSI harus melakukan evaluasi menyeluruh untuk mencari penyebab utama keterlambatan perkembangan atlet tunggal putra Indonesia. Ia mempertanyakan apa yang sebenarnya menjadi hambatan bagi atlet Indonesia untuk berkembang lebih cepat, mengingat fasilitas dan dukungan yang diberikan PBSI dinilai sudah cukup lengkap.

“Kenapa di situ? Nah di situlah kemarin evaluasi besar di PBSI. Kenapa? Apa yang ditakutkan? Ini anak kenapa? Trauma? Kan enggak mungkin. Fasilitas apa yang nggak dikasih sama PBSI sekarang? Apapun bisa kok,” ucapnya.

Selain faktor teknis, Taufik juga meminta seluruh pihak di lingkungan PBSI untuk lebih terbuka dalam proses evaluasi. Ia menilai kejujuran dari atlet maupun pelatih sangat penting agar akar persoalan dapat ditemukan dan dibenahi bersama-sama.

“Kalau ditanya mungkin atletnya juga harus jujur juga. Kalau sekarang ‘Baik? Sehat?’ ‘Baik, iya, siap’, tapi enggak. Nah di situlah tadi saya bilang bahasanya tuh kita gimana menggalinya. Ayo kita sama-sama introspeksi diri.”

Menurut Taufik, kegagalan di Thomas Cup 2026 harus dijadikan momentum pembelajaran besar bagi bulu tangkis Indonesia. Ia menegaskan bahwa pembenahan prestasi tidak bisa hanya dibebankan kepada atlet saja, melainkan membutuhkan kerja sama seluruh elemen mulai dari pemain, pelatih, hingga pengurus federasi.

PBSI pun kini disebut tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan atlet setelah hasil mengecewakan yang diraih tim Indonesia pada turnamen beregu putra paling bergengsi di dunia tersebut.

Jay.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh