majalahsuaraforum.com – Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga ketahanan energi nasional menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Jalur tersebut selama ini menjadi salah satu rute utama distribusi energi dunia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Dewan Energi Nasional (DEN), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan skenario terburuk apabila konflik di kawasan tersebut berlangsung dalam waktu lama.
“Karena itu, kami mengambil skenario terburuk. Jika konflik berkepanjangan, maka sebagian impor crude dari Timur Tengah akan kita alihkan ke Amerika untuk memastikan kepastian pasokan,” ujar Bahlil dalam konferensi pers, Selasa (3/3/2026).
Alih Pasokan untuk Jaga Stabilitas Langkah pengalihan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat ditempuh guna menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah potensi gangguan distribusi global. Dinamika geopolitik di sekitar Selat Hormuz dinilai berisiko terhadap kelancaran arus minyak dunia.
Bahlil memastikan bahwa untuk komoditas tertentu, situasi masih relatif aman. Impor solar disebut telah selesai dilakukan. Sementara untuk bensin dengan RON 90, 93, 95, dan 98, sumber pasokannya tidak berasal dari Timur Tengah.
“Yang kita impor sekarang adalah bensin RON 90, 93, 95, dan 98. Alhamdulillah, impor BBM jenis ini tidak berasal dari Timur Tengah, melainkan dari negara-negara lain, termasuk Asia Tenggara. Jadi relatif tidak ada masalah,” jelasnya.
Pasokan LPG Juga Disesuaikan Selain minyak mentah dan BBM, pemerintah turut memantau ketat pasokan LPG nasional. Saat ini, impor LPG Indonesia berada di kisaran 7,3 juta ton per tahun dan meningkat menjadi 7,8 juta ton pada tahun ini.
Sekitar 70% pasokan LPG berasal dari Amerika Serikat, sedangkan 30% lainnya berasal dari Timur Tengah, khususnya dari perusahaan energi Arab Saudi, Saudi Aramco.
“Mengingat dinamika yang terjadi, kita juga melakukan penyesuaian agar tidak mengambil risiko terlalu besar, dengan mengalihkan sebagian pasokan ke negara lain yang tidak terkait Selat Hormuz,” pungkas Bahlil.
Dengan berbagai langkah antisipatif tersebut, pemerintah berharap ketahanan energi nasional tetap terjaga meskipun situasi geopolitik global tengah mengalami tekanan akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Lan.











