majalahsuaraforum.com – Ketegangan di Jalur Gaza kembali memuncak setelah delapan negara berpenduduk mayoritas Muslim menyampaikan kecaman terbuka terhadap Israel. Negara-negara tersebut menilai Israel secara konsisten melanggar dan mengkhianati kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati, sehingga membahayakan stabilitas kawasan dan memperpanjang penderitaan warga sipil Palestina.
Kecaman tersebut disampaikan melalui pernyataan bersama para Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA), Turki, Mesir, Yordania, Indonesia, Pakistan, Arab Saudi, dan Qatar yang dirilis pada Minggu (1/2/2026). Dalam pernyataan itu, tindakan militer Israel disebut sebagai langkah sepihak yang bersifat provokatif dan berisiko memicu eskalasi konflik lebih luas.
“Tindakan-tindakan ini berisiko meningkatkan ketegangan dan merusak upaya yang bertujuan memperkuat situasi kondusif serta memulihkan stabilitas,” tegas para menteri dalam pernyataan kolektif tersebut.
Fase Kedua Gencatan Senjata Terancam Gagal Para menteri luar negeri menegaskan bahwa pelaksanaan penuh fase kedua gencatan senjata merupakan keharusan yang tidak dapat ditawar. Mereka mendesak seluruh pihak, dengan penekanan khusus kepada Israel, agar memikul tanggung jawab moral dan politik demi menjaga ketenangan yang saat ini berada dalam kondisi sangat rapuh.
Delapan negara tersebut juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk mendorong pengendalian diri maksimal. Tujuannya adalah memberi ruang bagi proses rekonstruksi Gaza yang mengalami kehancuran masif akibat konflik berkepanjangan.
Dalam pernyataan itu, kembali ditegaskan bahwa penghentian tembakan semata tidak cukup. Penyelesaian konflik, menurut para menteri, harus menyentuh akar persoalan, yakni pemenuhan hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri serta terwujudnya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat sesuai dengan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kekerasan Masih Terjadi di Lapangan Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 11 Oktober 2025 belum sepenuhnya dihormati. Israel dinilai terus melakukan tindakan militer yang mengancam keselamatan warga sipil.
Ali Abdel Hamid Shaath, Kepala Komite Nasional Administrasi Gaza (NCAG), menyerukan kepada seluruh pihak agar menghormati kesepakatan yang ada dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
“Jalan ke depan harus didasarkan pada pengendalian diri dan rasa hormat terhadap kehidupan warga sipil,” ujar Shaath.
Korban Terus Bertambah, Krisis Kemanusiaan Memburuk Data terbaru dari otoritas kesehatan Gaza per Minggu (1/2/2026) mencatat situasi yang semakin mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu 24 jam terakhir saja, sebanyak 26 warga Palestina dilaporkan tewas dan 68 lainnya mengalami luka-luka.
Secara keseluruhan, sejak dimulainya operasi militer pada Oktober 2023, jumlah korban jiwa telah mencapai 71.800 orang, dengan lebih dari 171.500 warga mengalami luka-luka. Banyak korban dilaporkan masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang runtuh, sementara tim penyelamat menghadapi keterbatasan akses dan ancaman keamanan.
Gencatan senjata yang dimediasi oleh Mesir, Qatar, Turki, dan Amerika Serikat kini berada pada titik kritis. Kesepakatan tersebut dinilai dapat menjadi jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan, atau justru hanya menjadi jeda singkat sebelum gelombang kekerasan berikutnya kembali terjadi.
Red.











