majalahsuaraforum.com – Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, memberikan penjelasan mengenai ketidakhadiran Malaysia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Gaza yang digelar di Sharm El-Sheikh, Mesir. Menurutnya, Malaysia tidak diundang dalam pertemuan tersebut karena sikap negara itu yang hanya memberikan dukungan bersyarat terhadap rencana perdamaian yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dalam keterangannya yang dikutip dari The Strait Times, Kamis (16/10/2025), Anwar menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil karena Malaysia tetap berpegang pada prinsip independensi dalam setiap kebijakan luar negeri, khususnya yang berkaitan dengan isu kemanusiaan dan Palestina.
“Malaysia tidak diundang ke KTT perdamaian Gaza di Mesir karena dukungan bersyaratnya terhadap rencana perdamaian 20 poin dari Presiden Trump,” ujar Anwar.
Anwar menjelaskan bahwa hanya negara-negara yang memberikan dukungan penuh tanpa keberatan terhadap rencana perdamaian tersebut yang diundang untuk menghadiri KTT yang dilaksanakan pada Senin (13/10/2025) di Sharm El-Sheikh, Mesir.
“Malaysia tidak diikutsertakan karena kami menyatakan dukungan dengan beberapa keberatan. Namun tetap, prioritas utama adalah menghentikan kehancuran di Gaza dan pembunuhan warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak,” tegasnya.
KTT Perdamaian Gaza di Mesir tersebut merupakan inisiatif bersama antara Presiden Donald Trump dan Presiden Mesir Abdul Fattah as-Sisi, dengan tujuan membahas langkah konkret menuju penyelesaian konflik antara Hamas dan Israel, sekaligus membangun kembali stabilitas kawasan Timur Tengah.
Berbeda dengan Malaysia, Presiden Indonesia Prabowo Subianto hadir langsung dalam forum tersebut bersama lebih dari 20 pemimpin dunia, termasuk Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Kehadiran para pemimpin dunia itu menunjukkan pentingnya pertemuan tersebut dalam menentukan arah perdamaian dan keamanan di kawasan.
Meski tidak diundang, Anwar menegaskan bahwa Malaysia tetap konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina dan menyerukan penghentian kekerasan yang telah menimbulkan banyak korban jiwa, terutama di kalangan warga sipil.
Ia menambahkan bahwa komitmen Malaysia terhadap isu Palestina bukanlah semata soal diplomasi, tetapi juga bentuk solidaritas kemanusiaan yang telah lama menjadi bagian dari kebijakan luar negeri negara tersebut.
“Malaysia akan terus berdiri bersama rakyat Palestina. Kami percaya perdamaian sejati hanya dapat tercapai apabila ada keadilan, pengakuan atas hak-hak dasar rakyat Gaza, serta penghentian agresi secara permanen,” ujar Anwar menegaskan.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan posisi Malaysia yang tetap independen dan berprinsip dalam politik luar negeri, meskipun tidak selalu sejalan dengan negara-negara besar di dunia.
Red.











