Majalahsuaraforum.com – Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, mengungkapkan bahwa lonjakan harga beras di berbagai daerah bukan semata karena kelangkaan, tetapi karena lemahnya pengelolaan distribusi. Ia menegaskan bahwa distribusi yang baik adalah kunci utama menstabilkan harga di tengah masyarakat.
Pernyataan ini disampaikan Tito saat menghadiri Rapat Koordinasi Terbatas menindaklanjuti arahan Presiden terkait isu manipulasi harga dan beras oplosan di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jumat (25/7).
“Kalau distribusinya amburadul, harga pasti naik. Bahkan di daerah produsen sekalipun, harga bisa melonjak jika tidak dikelola dengan baik,” tegas Tito.
Ia mengungkapkan bahwa pada minggu ketiga Juli 2025, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras melonjak dari 178 menjadi 205 wilayah. Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan karena terjadi secara cepat dan merata.
Untuk mengatasi hal tersebut, Tito mendorong pemberian subsidi transportasi agar biaya distribusi bisa ditekan. “Langkah konkret seperti subsidi transportasi komoditas pangan bisa sangat membantu menurunkan harga di pasaran,” ucapnya.
Namun, solusi tidak hanya berhenti di situ. Mantan Kapolri itu juga menyerukan agar masyarakat perlahan mulai mengurangi ketergantungan pada beras dengan beralih ke pangan lokal seperti sagu, singkong, jagung, dan umbi-umbian yang selama ini justru terpinggirkan.
Tak kalah penting, Tito meminta aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap produsen atau distributor yang terbukti menaikkan harga beras secara tidak wajar. “Jangan beri ruang bagi mafia pangan untuk bermain. Penindakan harus tegas demi melindungi rakyat,” tegasnya.
Ia berharap kombinasi antara distribusi yang tertata, penguatan pangan alternatif, dan pengawasan ketat dapat membantu mengendalikan harga beras secara menyeluruh. “Tujuan akhirnya jelas: rakyat tidak terbebani, dan negara hadir menjaga kestabilan pangan,” tutup Tito.
Pen. Lan.











