Majalahsuaraforum.com – Anggota Komisi V DPR RI menyoroti serangkaian kecelakaan kapal di perairan Selat Bali dalam kurun waktu singkat. Insiden-insiden ini dinilai bukan sekadar kejadian tunggal, melainkan menunjukkan celah serius dalam manajemen keselamatan pelayaran nasional.
DPR mendesak dilakukan audit menyeluruh terhadap seluruh armada penyeberangan, meliputi evaluasi teknis kapal, sistem manifest penumpang dan muatan, pelatihan kru, serta penegakan prosedur operasi standar (SOP). Mereka menyoroti berbagai persoalan seperti ketidakakuratan data manifest yang memungkinkan kelebihan muatan, kelalaian dalam pemantauan cuaca dan arus laut, serta dugaan masalah teknis kapal terkait struktur lambung dan peralatan darurat.
Insiden terbaru melibatkan KMP Tunu Pratama Jaya, yang tenggelam pada 2 Juli 2025 saat menyeberang dari Ketapang (Banyuwangi) ke Gilimanuk (Bali). Kapal tersebut mengangkut 53 penumpang, 12 kru, dan 22 kendaraan. Sebanyak 6 orang tewas, dan puluhan lainnya dilaporkan hilang.
Ini merupakan rangkaian insiden keempat dalam 11 hari terakhir di jalur penyeberangan tersebut, termasuk kandasnya KMP Gerbang Samudra 2 pada 22 Juni 2025 dan tenggelamnya KMP Yunicee pada 29 Juni 2025.
DPR menegaskan bahwa respons darurat saja tidak cukup. Diperlukan langkah preventif proaktif melalui pengawasan ketat dan sistem peringatan dini berbasis data cuaca akurat agar kecelakaan serupa tidak kembali terulang.
Pen. Red.











