Majalahsuaraforum.com, 6 Juli 2025 — Serangan udara militer Israel kembali menambah deretan korban jiwa di Jalur Gaza. Sabtu (5/7), sedikitnya 26 warga Palestina tewas dalam serangan yang menyasar tenda-tenda pengungsi di sejumlah wilayah, termasuk Zaytun, Khan Yunis, hingga Rafah. Serangan ini memicu kecaman keras dari dunia internasional, termasuk dari Pelapor Khusus PBB yang menyebut tindakan Israel sebagai salah satu bentuk genosida paling kejam dalam sejarah modern.
Menurut laporan dari media lokal dan sumber medis Palestina, serangan udara menghantam sebuah sekolah di kawasan Zaytun, Kota Gaza, yang tengah difungsikan sebagai tempat penampungan. Tujuh orang dilaporkan tewas di lokasi tersebut. Di kawasan Sheikh Ridwan, dua anak turut menjadi korban jiwa dalam serangan terhadap sekolah lain. Serangan juga terjadi di lingkungan Sheiaiya, menewaskan dua warga sipil di dekat masjid.
Tak berhenti di sana, serangan drone menghantam kamp pengungsi al‑Bureij dan Maghazi, menewaskan beberapa orang, termasuk dua kakak-beradik. Di Al‑Mawasi, barat Khan Yunis — yang sebelumnya ditetapkan sebagai zona aman — sebuah tenda pengungsi dihantam rudal, menewaskan seorang dokter bersama empat anaknya. Di Rafah, pasukan Israel bahkan menembaki warga yang tengah mengantre bantuan, menewaskan dua orang dan melukai sejumlah lainnya.
Tragedi ini kembali menyoroti kondisi kemanusiaan di Gaza yang terus memburuk sejak pecahnya perang pada Oktober 2023. Dalam kurun waktu sembilan bulan terakhir, lebih dari 57.000 warga Palestina tewas — sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.
Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki, mengeluarkan pernyataan tegas, menyebut Israel “bertanggung jawab atas salah satu genosida paling kejam dalam sejarah modern.” Ia mendesak diberlakukannya embargo senjata total terhadap Israel serta penghentian hubungan perdagangan dan investasi oleh komunitas internasional. Menurutnya, Gaza kini telah dijadikan “tempat uji coba senjata” oleh militer Israel.
Sementara itu, seruan gencatan senjata kembali menguat di berbagai forum internasional. Namun hingga kini, upaya diplomatik belum berhasil menghentikan derita jutaan warga sipil Palestina yang terjebak di tengah perang yang tak kunjung usai.
Pen. Red.











