Home / Kabar Berita / Malaysia Kantongi Rp 4,16 Triliun dari Gelaran F1 di Sirkuit Sepang

Malaysia Kantongi Rp 4,16 Triliun dari Gelaran F1 di Sirkuit Sepang

foto istimewa

majalahsuaraforum.com – Penyelenggaraan Grand Prix Bahrain Gulf Air di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia, memberikan dampak ekonomi hampir RM 950 juta atau setara Rp 4,16 triliun. Ajang Formula 1 (F1) yang berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 tersebut menarik sekitar 261.000 penonton selama tiga hari.

Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Taufiq Johari, mengungkapkan data tersebut dalam jawaban tertulis kepada parlemen pada Selasa (13/10/2026). Dari keseluruhan penonton, sekitar 103.000 orang hadir langsung pada hari perlombaan.

Jumlah tersebut mencatatkan rekor baru bagi kehadiran penonton F1 di Sepang, melampaui rekor sebelumnya sebanyak 126.690 orang ketika Grand Prix Malaysia digelar pada 2008.

Menurut Taufiq, berdasarkan data manajemen Formula 1, perlombaan tersebut juga disaksikan sekitar 827 juta pemirsa di berbagai negara.

Grand Prix Bahrain tahun ini dipindahkan ke Sirkuit Internasional Sepang sebagai penyelenggaraan khusus. Keputusan tersebut diambil setelah balapan yang seharusnya berlangsung di Bahrain pada April tidak dapat dilaksanakan akibat perang Iran dan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Taufiq menjelaskan bahwa lebih dari 97.000 tiket berhasil terjual untuk ajang tersebut. Selain itu, penyelenggaraan balapan turut mendatangkan lebih dari 50.000 wisatawan mancanegara dan sekitar 5.000 pekerja asing ke Malaysia.

“Kehadiran penonton dari luar negeri juga meningkatkan pendapatan sektor pariwisata, perhotelan, dan penerbangan, serta usaha kecil dan menengah setempat. Hal ini sekaligus memperkuat citra Malaysia sebagai destinasi olahraga dan investasi kelas dunia,” kata Taufiq, dikutip Free Malaysia Today.

Malaysia Masih Menghitung Biaya Penyelenggaraan F1

Di balik dampak ekonomi yang besar, pemerintah Malaysia masih melakukan evaluasi untuk memastikan apakah manfaat yang diperoleh sebanding dengan biaya penyelenggaraan balapan.

Taufiq menyatakan bahwa kajian mengenai biaya dan manfaat ekonomi masih berlangsung. Untuk mendukung proses tersebut, Sirkuit Internasional Sepang telah menunjuk perusahaan konsultan guna menganalisis pengeluaran penyelenggaraan serta dampak ekonomi yang dihasilkan.

Sebelumnya, sejumlah media lokal melaporkan bahwa Bahrain menanggung biaya penyelenggaraan balapan. Sementara itu, Malaysia mengeluarkan dana sekitar RM 10 juta hingga RM 16 juta untuk kebutuhan persiapan.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, sebelumnya juga menyampaikan bahwa pemerintah telah membahas kemungkinan mengembalikan Grand Prix Malaysia sebagai agenda permanen dalam kalender Formula 1. Pembahasan tersebut dilakukan bersama CEO Formula 1, Stefano Domenicali.

Meski demikian, Anwar mengakui bahwa upaya tersebut membutuhkan waktu. Salah satu tantangannya adalah padatnya jadwal balapan serta adanya komitmen kontrak dengan negara-negara lain yang menjadi tuan rumah.

Federasi Otomotif Internasional (FIA), selaku badan pengatur Formula 1, menyatakan bahwa Malaysia perlu menyiapkan rencana bisnis untuk jangka waktu minimal lima tahun apabila ingin kembali menjadi tuan rumah secara permanen.

Rencana bisnis tersebut harus mencakup sejumlah aspek penting, termasuk komersial, promosi, dan logistik.

Sementara itu, seorang pejabat Sirkuit Internasional Sepang sebelumnya memperkirakan Malaysia perlu mengeluarkan biaya sekitar RM 300 juta setiap tahun untuk mendapatkan tempat permanen dalam kalender balapan Formula 1.

Dengan capaian ekonomi dari penyelenggaraan khusus tahun ini, pemerintah Malaysia masih perlu mempertimbangkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan mengenai kemungkinan menggelar Grand Prix secara rutin pada masa mendatang.

 

red.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh