majalahsuaraforum.com – Sejumlah wilayah di Provinsi Sumatera Selatan kini tengah dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring berjalannya musim kemarau. Pihak berwenang menegaskan bahwa peristiwa ini sebagian besar dipicu oleh ulah manusia.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra di bawah Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, menyampaikan bahwa dalam kurun waktu satu minggu terakhir, titik api terus bermunculan di tiga kabupaten utama, yaitu Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Muara Enim. Puluhan hektar lahan telah hangus terbakar, menyisakan hamparan tanah berwarna hitam di tengah kawasan sekitarnya.
“Tim Manggala Agni terus bersiaga karena titik api dilaporkan terus muncul di beberapa wilayah,” ungkap Ferdian pada Kamis, 9 Juli 2026.
Berdasarkan hasil pantauan langsung di lapangan, kebakaran terjadi karena aktivitas manusia, baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Tindakan sengaja biasanya berupa pembakaran lahan untuk membuka kebun atau membuang sampah yang kemudian apinya merembet luas terbawa angin. Kondisi ini semakin tak terkendali karena melimpahnya bahan yang mudah terbakar di sekitar lokasi.
“Faktor manusia menjadi yang paling berpengaruh, kondisi alamnya hanya faktor pendorong menjadi luas atau menjadi berbahaya sekali ketika ada pemicu. Kalau pengalaman kami dan penelitian dari beberapa kampus di Indonesia, sangat jarang bisa terjadi kebakaran sendiri, biasanya ada yang membawa korek api,” terang Ferdian.
Sementara itu, kebakaran yang terjadi tanpa sengaja umumnya disebabkan oleh puntung rokok yang dibuang sembarangan ke lahan gambut yang sudah sangat kering. Hal ini diperparah oleh tiupan angin serta melimpahnya vegetasi kering seperti semak belukar dan rumput yang layu akibat penggunaan bahan kimia.
“Jadilah kebakaran yang tidak terkendali. Pada segitiga api seperti itu, oksigen (angin), bahan bakaran (vegetasi kering, semak, gambut kering) bertemu dengan api,” kata Ferdian.
Ferdian menjelaskan bahwa motif di balik pembakaran lahan secara sengaja adalah untuk membersihkan area yang akan dimanfaatkan. Ia juga menemukan fakta bahwa lokasi yang terbakar pada tahun-tahun sebelumnya kini berubah fungsi menjadi area perkebunan, perumahan, maupun kavlingan tanah.
“Eks karhutla tahun 2023-2025 yang di sekitaran jalan lintas ada juga yang sudah jadi perumahan, arah kampus Unsri (Indralaya, Ogan Ilir). Dekat karhutla sekarang yang kami lihat, banyak kavlingan,” kata Ferdian.
Pihaknya pun meminta kesadaran masyarakat untuk memahami bahaya kebakaran hutan dan lahan, baik bagi lingkungan maupun kesehatan. Membuka lahan dengan cara dibakar adalah langkah yang keliru karena api sangat sulit dikendalikan saat musim kemarau seperti saat ini.
Guna menekan meluasnya kebakaran, Kementerian Kehutanan kini memperketat pengawasan di wilayah-wilayah rawan seperti Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Muara Enim. Koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah serta satuan tugas penanggulangan karhutla juga diperkuat agar api dapat segera dipadamkan sebelum menyebar lebih jauh.
“Saat ini kami taruh tambahan personel di sekitaran Indralaya, kemudian frekuensi patroli kami tambah pada titik rawan,” tutup Ferdian.
Dw.











