Home / Kabar Berita / Ketegangan Timur Tengah Memanas, Iran Ancam Ganggu Jalur Energi di Selat Hormuz

Ketegangan Timur Tengah Memanas, Iran Ancam Ganggu Jalur Energi di Selat Hormuz

Foto. Ist 

majalahsuaraforum.com – Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengancam akan mengambil langkah tegas terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz menyusul serangan militer Israel di wilayah Lebanon selatan yang menewaskan sedikitnya 20 orang.

Pemerintah Iran menilai serangan tersebut telah melanggar kesepakatan yang sebelumnya menjadi dasar dimulainya perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terkait program nuklir dan stabilitas kawasan.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz dapat menghadapi risiko apabila eskalasi konflik terus meningkat. Jalur perairan tersebut merupakan salah satu rute energi paling strategis di dunia karena menjadi lintasan utama distribusi minyak dari kawasan Teluk ke berbagai negara.

Menurut pihak Iran, ancaman penutupan Selat Hormuz muncul sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai tindakan agresif Israel di Lebanon serta kegagalan Amerika Serikat dalam menjalankan komitmen yang telah disepakati dalam proses perdamaian.

Gencatan Senjata Lebanon Dipersoalkan Salah satu poin penting dalam kesepakatan sementara antara Iran dan Amerika Serikat adalah penghentian konflik bersenjata di Lebanon selama masa perundingan yang berlangsung selama 60 hari.

Namun, hanya beberapa jam setelah gencatan senjata diberlakukan, serangan udara Israel dilaporkan kembali terjadi di Lebanon selatan. Otoritas Pertahanan Sipil Lebanon menyebut sedikitnya 20 orang meninggal dunia akibat serangan tersebut.

Perkembangan itu menimbulkan kekhawatiran bahwa proses perdamaian yang sedang dibangun berpotensi terganggu.

Laporan sejumlah media internasional menyebut Israel dan Hizbullah sebelumnya telah mencapai kesepakatan untuk menghentikan aksi permusuhan. Akan tetapi, serangan terbaru tersebut memicu kembali ketegangan di kawasan.

Iran Tuding AS Tidak Menjalankan Kesepakatan Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, yakni Mohammad Mokhber, menilai Amerika Serikat belum menjalankan salah satu klausul utama dalam kesepakatan sementara yang telah disusun kedua negara.

Menurutnya, poin pertama dalam kesepakatan tersebut mengatur penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di berbagai wilayah konflik, termasuk Lebanon.

Mokhber menegaskan bahwa selama kesepakatan tersebut belum dijalankan secara nyata, maka stabilitas pasokan energi dari Timur Tengah akan tetap berada dalam situasi yang tidak menentu.

Pelayaran di Selat Hormuz Masih Normal Meski ancaman Iran kembali mencuat, pihak militer Amerika Serikat memastikan aktivitas pelayaran internasional di Selat Hormuz masih berlangsung normal.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melaporkan puluhan kapal dagang tetap melintas di jalur tersebut dengan membawa jutaan barel minyak menuju pasar global.

Pemerintah Amerika Serikat juga menegaskan komitmennya untuk menjaga keamanan pelayaran internasional dan menjamin kebebasan navigasi di kawasan strategis tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyatakan tidak akan mengenakan biaya pelayaran kepada kapal yang melintasi Selat Hormuz selama masa gencatan senjata berlangsung.

Namun demikian, Trump mengingatkan kebijakan tersebut dapat berubah apabila proses negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan damai yang permanen.

Delegasi Iran dan AS Bertemu di Swiss Di tengah meningkatnya ketegangan, jalur diplomasi tetap berjalan. Delegasi tingkat tinggi Iran dilaporkan telah tiba di Swiss untuk melanjutkan pembicaraan dengan Amerika Serikat.

Rombongan Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan turut melibatkan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi serta sejumlah pejabat yang membidangi keamanan nasional, energi, dan kebijakan ekonomi.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa negaranya akan memanfaatkan forum perundingan tersebut untuk menuntut pelaksanaan seluruh komitmen yang telah disepakati sebelumnya.

“Iran akan menekankan pentingnya pemenuhan kewajiban yang telah disepakati, mengingat pengalaman sebelumnya ketika pihak lain gagal menghormati perjanjian,” kata Baghaei.

Sementara itu, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance juga bertolak menuju Swiss guna menghadiri perundingan yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu.

Sebelum keberangkatannya, Vance menyampaikan harapannya agar gencatan senjata di Lebanon dapat dipertahankan dan negosiasi yang berlangsung mampu menghasilkan kemajuan, baik terkait isu nuklir Iran maupun stabilitas keamanan kawasan.

“Saya mungkin hanya bisa berada di sana satu atau dua hari. Saya berharap kita dapat membuat kemajuan dalam isu nuklir dan juga isu gencatan senjata Lebanon,” ujar Vance.

Perundingan di Swiss kini menjadi perhatian dunia internasional karena dinilai berpotensi menentukan arah hubungan Iran dan Amerika Serikat sekaligus memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah dalam beberapa waktu ke depan.

Dw.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh