majalahsuaraforum.com-Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mengakui berbagai program nasional di bidang lalu lintas yang telah diterapkan masih menghadapi sejumlah hambatan dalam pelaksanaannya, terutama di wilayah DKI Jakarta yang memiliki tingkat kepadatan kendaraan sangat tinggi.
Kepala Korlantas Polri, Irjen Pol. Agus Suryonugroho, mengatakan bahwa pihaknya telah menggulirkan berbagai kebijakan nasional untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Salah satunya melalui pendekatan humanis yang dikenal dengan program “Korlantas Menyapa dan Melayani” serta penerapan sistem penegakan hukum berbasis elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE).
“Kalau kebijakan nasional kaitannya dengan Korlantas, kami menggaungkan ‘Korlantas Menyapa dan Melayani’, termasuk optimalisasi penegakan hukum menggunakan ETLE,” kata Agus Senin (15/6/2026).
Menurutnya, kedua program tersebut dirancang untuk memperkuat hubungan antara polisi lalu lintas dan masyarakat sekaligus meningkatkan efektivitas penegakan aturan lalu lintas secara digital. Meski demikian, pelaksanaan di lapangan belum sepenuhnya berjalan optimal karena berbagai faktor yang memengaruhi kondisi lalu lintas perkotaan.
Polda Metro Jaya Terus Lakukan Pengaturan Arus
Agus menjelaskan bahwa jajaran Polda Metro Jaya selama ini telah berupaya maksimal mengendalikan lalu lintas di Ibu Kota. Berbagai langkah dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari pengaturan kendaraan pada jam sibuk hingga penerapan rekayasa lalu lintas ketika terdapat kegiatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan kepadatan.
“Polda Metro Jaya itu hampir 1×24 jam melakukan pengaturan, pagi, siang, sore, termasuk rekayasa lalu lintas ketika ada kegiatan tertentu,” ujarnya.
Meski pengaturan dilakukan secara intensif, tantangan yang dihadapi tetap besar. Agus menilai jumlah kendaraan yang terus bertambah di Jakarta dan kawasan penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi menjadi faktor utama yang mempersulit upaya pengurangan kemacetan.
Tingginya mobilitas masyarakat setiap hari membuat dampak dari berbagai kebijakan yang telah diterapkan belum sepenuhnya mampu mengatasi kepadatan lalu lintas secara signifikan.
“Jumlah kendaraan di Jakarta dan Jabodetabek cukup padat sehingga terjadi kepadatan,” terang Agus.
Jakarta Masih Bergelut dengan Kemacetan
Permasalahan kemacetan masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah maupun aparat terkait. Berdasarkan data TomTom Traffic Index, Jakarta tercatat sebagai kota dengan tingkat kemacetan yang cukup tinggi, menempati peringkat ke-24 dunia dan ke-8 di kawasan Asia dengan tingkat kemacetan rata-rata mencapai 59,8 persen.
Kondisi tersebut menyebabkan waktu perjalanan pada jam sibuk menjadi lebih lama. Untuk menempuh jarak sekitar 10 kilometer, pengendara dapat menghabiskan waktu lebih dari 26 menit.
Selain tingginya volume kendaraan, kondisi lalu lintas Jakarta juga sering dipengaruhi berbagai faktor eksternal. Insiden jalan rusak atau ambles, genangan akibat hujan deras, hingga pengalihan arus karena kegiatan demonstrasi kerap memperburuk kemacetan di sejumlah ruas jalan utama.
Beberapa kawasan yang selama ini dikenal sebagai titik rawan kemacetan antara lain koridor ganjil genap, Jalan Gatot Subroto, serta jalur penghubung menuju wilayah Depok yang sering mengalami kepadatan parah pada jam berangkat dan pulang kerja.
Di tengah tantangan tersebut, Dinas Perhubungan DKI Jakarta mencatat adanya peningkatan kecepatan rata-rata kendaraan pada ruas jalan yang menerapkan sistem ganjil genap. Kecepatan kendaraan tercatat mencapai sekitar 29,58 kilometer per jam. Namun demikian, kemacetan yang bersifat struktural masih menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan jangka panjang.
Korlantas Polri menilai bahwa keberhasilan kebijakan nasional di bidang lalu lintas sangat bergantung pada penguatan implementasi di tingkat daerah. Dengan sinergi yang lebih baik antara pemerintah daerah, kepolisian, dan pemangku kepentingan lainnya, diharapkan berbagai strategi yang telah dirancang dapat memberikan dampak yang lebih nyata dalam mengurangi kemacetan di Jakarta dan kawasan sekitarnya.(hil)











