Home / Kabar Berita / Tragedi Penembakan di Masjid California Soroti Lonjakan Kejahatan Bermotif Kebencian di AS

Tragedi Penembakan di Masjid California Soroti Lonjakan Kejahatan Bermotif Kebencian di AS

Foto. Ist

majalahsuaraforum.com — Peristiwa penembakan yang terjadi di sebuah masjid di kawasan San Diego kembali mengguncang masyarakat Amerika Serikat dan memunculkan kekhawatiran serius terkait meningkatnya aksi kekerasan bermotif kebencian terhadap komunitas Muslim. Aparat keamanan menyebut pelaku penyerangan diketahui memiliki rekam jejak serta pandangan anti-Islam.

Masjid yang menjadi lokasi serangan selama ini dikenal aktif menjalankan berbagai kegiatan ibadah dan sosial kemasyarakatan. Selain menyelenggarakan salat lima waktu setiap hari, pengurus masjid juga rutin menjalin kerja sama dengan berbagai organisasi lintas agama dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Insiden tersebut menjadi sorotan karena terjadi di tengah meningkatnya ketegangan sosial dan politik di Amerika Serikat. Berbagai organisasi hak sipil menilai kasus kekerasan terhadap kelompok minoritas agama masih menjadi persoalan serius yang belum terselesaikan.

Data resmi dari Federal Bureau of Investigation (FBI) menunjukkan jumlah laporan kejahatan kebencian di Amerika Serikat sempat mencapai 1.559 kasus pada Oktober 2023. Meski angka itu dilaporkan menurun menjadi 579 kasus pada April 2026, sejumlah kelompok pemantau menilai realitas di lapangan kemungkinan jauh lebih besar.

Hal tersebut disebabkan karena sistem pelaporan kejahatan kebencian di Amerika Serikat belum bersifat wajib. Data yang masuk ke FBI berasal dari laporan sukarela lembaga penegak hukum di berbagai daerah sehingga dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya.

Southern Poverty Law Center (SPLC) menyoroti persoalan tersebut dan menyebut data resmi pemerintah masih memiliki banyak keterbatasan.

“Sayangnya, pelaporan tidak wajib dan, dari tahun ke tahun, datanya jelas tidak lengkap,” tulis Southern Poverty Law Center (SPLC) pada bulan Oktober.

Dalam laporan terbaru yang mencakup data tahun 2024, FBI mencatat terdapat 11.679 kasus kejahatan kebencian yang dilaporkan oleh lebih dari 16 ribu lembaga penegak hukum di seluruh negeri.

Sementara itu, hasil analisis survei nasional yang dilakukan Bureau of Justice Statistics memperlihatkan rata-rata hampir 250 ribu kasus kejahatan kebencian terjadi setiap tahun selama periode 2005 hingga 2019.

Menurut SPLC, angka riil kejahatan kebencian di Amerika Serikat kemungkinan berada di antara data FBI dan hasil survei nasional tersebut. Organisasi itu bersama Council on American-Islamic Relations (CAIR) menilai aksi diskriminasi dan kebencian terhadap Muslim terus mengalami peningkatan.

“Kami sangat terganggu, tetapi sama sekali tidak terkejut, mengetahui bahwa mereka yang menyerang Pusat Islam San Diego dilaporkan termotivasi oleh kebencian anti-Muslim,” kata pernyataan CAIR. “Kebencian terhadap Muslim Amerika benar-benar di luar kendali.”

Situasi keamanan komunitas agama di Amerika Serikat juga disebut semakin sensitif sejak meningkatnya konflik Iran. Komunitas Muslim maupun Yahudi dilaporkan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi aksi kekerasan berbasis sentimen agama dan politik.

Pada Maret lalu, misalnya, seorang warga negara Amerika Serikat keturunan Lebanon berusia 41 tahun dilaporkan melakukan aksi bunuh diri setelah menabrakkan truk ke kuil Yahudi terbesar di negara bagian Michigan. Pelaku juga sempat menembaki petugas keamanan sebelum ledakan kembang api terjadi di lokasi kejadian.

Peristiwa penembakan di masjid San Diego kini kembali memicu tuntutan dari berbagai organisasi sipil agar pemerintah Amerika Serikat memperkuat perlindungan terhadap rumah ibadah serta mengambil langkah lebih tegas dalam menangani kejahatan kebencian yang terus meningkat di berbagai wilayah negara tersebut.

Red.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh