majalahsuaraforum.com-Suasana hangat dan penuh keterbukaan mewarnai kegiatan Coffee Morning yang digelar Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas), Kamis pagi, 7 Mei 2026. Sejumlah wartawan yang selama ini meliput isu pemasyarakatan hadir dalam forum diskusi bersama Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi.
Dalam pertemuan tersebut, Mashudi didampingi Direktur Pengamanan dan Intelijen Ditjenpas, Tatan Dirsan Atmaja. Diskusi berlangsung santai namun membahas berbagai persoalan serius di lingkungan lapas dan rutan.
Berbagai isu menjadi topik pembicaraan, mulai dari peredaran narkoba, pungutan liar, fasilitas mewah bagi warga binaan tertentu, hingga kesejahteraan pegawai pemasyarakatan.
Mashudi bahkan secara terbuka meminta masukan dari para wartawan terkait upaya pemberantasan narkoba di lapas dan rumah tahanan.
“Coba kasih saya masukan tentang pemberantasan narkoba di lapas dan rutan,” ujar Mashudi.
Alih-alih defensif, Mashudi terlihat terbuka menerima berbagai kritik dan saran yang disampaikan peserta diskusi.
Dorong Pembinaan Berbasis Produktivitas
Dalam kesempatan itu, Mashudi juga memaparkan visinya mengenai pembinaan warga binaan yang berbasis produktivitas dan pemberdayaan ekonomi.
Ia berharap setiap Unit Pelaksana Teknis (UPT) pemasyarakatan ke depan memiliki unit usaha maupun fasilitas produksi yang dapat melibatkan warga binaan secara aktif.
Menurutnya, pola pembinaan seperti yang diterapkan di Lapas Tangerang terbukti memberikan dampak positif karena warga binaan dapat bekerja sekaligus memperoleh penghasilan.
“Ada yang satu bulan bisa dapat Rp1,8 juta. Bayangkan. Bisa-bisa dia keluar malah nggak mau keluar,” kata Mashudi sambil bercanda.
Ia juga mencontohkan kondisi di Nusakambangan, di mana sejumlah warga binaan terlibat dalam berbagai aktivitas produktif seperti pengelolaan tambak dan sektor pembinaan lainnya.
Menurut Mashudi, aktivitas kerja dan keterampilan menjadi bekal penting bagi warga binaan agar memiliki harapan hidup yang lebih baik setelah bebas.
“Yang penting mereka bekerja, punya keterampilan, punya penghasilan. Jadi tidak miskin dan punya harapan hidup setelah bebas,” ujarnya.
Bangun Ekosistem Ekonomi di Lapas
Ditjenpas juga tengah mengembangkan konsep ekosistem ekonomi mandiri di lingkungan lapas dan rutan.
Mashudi menjelaskan bahwa sejumlah lapas diarahkan memiliki fokus usaha berbeda agar dapat saling mendukung kebutuhan bahan makanan warga binaan. Ada lapas yang difokuskan pada peternakan ayam petelur, ayam potong, budidaya ikan, hingga produksi tempe dan tahu.
“Kalau satu lapas fokus ayam petelur, lapas lain ayam potong, ada yang ikan, ada yang tempe tahu. Semua saling suplai. Jadi semua kebagian,” jelasnya.
Ia mengungkapkan bahwa dalam kontrak pengadaan bahan makanan kini telah dimasukkan klausul kewajiban menyerap minimal lima persen hasil produksi warga binaan.
“Kontrak Bama itu ada lima persen wajib mengambil hasil warga binaan. Itu sudah dituangkan dalam kontrak,” tegas Mashudi.
Selain memperkuat pembinaan, langkah tersebut juga disebut sebagai upaya memotong rantai distribusi dan memberdayakan pengusaha lokal dalam pengelolaan kebutuhan bahan makanan di lapas.
Soroti Gaya Hidup Pegawai dan Judi Online
Pembahasan kemudian beralih ke persoalan kesejahteraan pegawai pemasyarakatan. Salah satu isu yang mencuat adalah banyaknya pegawai muda yang terjebak pinjaman konsumtif hingga judi online.
Mashudi mengungkapkan pihaknya telah menyiapkan lahan seluas sekitar 11 hingga 12 hektare di Cikarang untuk pembangunan rumah murah bagi pegawai pemasyarakatan.
“Rumah murah untuk pegawai sudah kita siapkan di Cikarang,” ungkapnya.
Namun ia juga mengingatkan agar para pegawai tidak terjebak gaya hidup berlebihan yang berujung pada persoalan finansial.
“Pinjam bank besar-besar cuma buat beli motor atau mobil, akhirnya masuk judi online. Kerja jadi nggak bagus,” katanya.
Mashudi menyebut pihaknya rutin melakukan pemantauan terhadap kondisi finansial pegawai melalui koordinasi dengan perbankan.
“Kita panggil, kita tanya dari hati ke hati. Direktur wajib peduli terhadap anak buahnya,” ujarnya.
Program MBG Libatkan Warga Binaan
Dalam forum tersebut, Mashudi turut menjelaskan perkembangan program MBG yang kini mulai dikembangkan di berbagai lapas dan rutan.
Program tersebut memanfaatkan lahan yang belum digunakan untuk kegiatan produktif dengan melibatkan warga binaan sesuai kemampuan dan minat masing-masing.
Menurut Mashudi, program MBG pertama kali dijalankan di Lapas Sukamiskin sebelum akhirnya berkembang ke berbagai wilayah lain di Indonesia.
“Sekarang sudah ada sekitar 70 titik MBG di lapas dan rutan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, setiap titik program MBG melibatkan sekitar 20 warga binaan yang telah melalui proses asesmen dan dinilai berkelakuan baik.
“Ada yang memang punya kemampuan memasak, ada yang kerajinan, ada yang bidang lain. Semua berdasarkan asesmen,” jelasnya.
Warga binaan yang ikut dalam program tersebut juga memperoleh premi atau penghasilan yang langsung masuk ke rekening pribadi masing-masing.
Mashudi menegaskan bahwa program itu tidak hanya berlaku di lapas laki-laki, tetapi juga melibatkan warga binaan perempuan.
“Semua kita libatkan, termasuk lapas perempuan,” tutupnya.(hil)











