Home / Nasional / Banjir Bogor–Jakarta Jadi Peringatan Serius, Perlu Perombakan Tata Kelola Air Perkotaan

Banjir Bogor–Jakarta Jadi Peringatan Serius, Perlu Perombakan Tata Kelola Air Perkotaan

majalahsuaraforum.com — Peristiwa banjir yang kembali melanda wilayah Bogor dan Jakarta dinilai sebagai sinyal kuat perlunya transformasi dalam pengelolaan tata kota, khususnya yang berkaitan dengan sistem air perkotaan. Para ahli menekankan bahwa pendekatan berbasis ilmiah, adaptif, serta melibatkan partisipasi masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan tersebut.

Peneliti pengelolaan air perkotaan, Erbi Setiawan, menjelaskan bahwa banjir yang terjadi tidak semata-mata disebabkan oleh curah hujan tinggi, tetapi merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor alam dan keterbatasan infrastruktur.

“Curah hujan dengan intensitas ekstrem memang menjadi pemicu utama banjir saat ini. Namun demikian, fenomena tersebut sebelumnya telah diproyeksikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Sehingga secara prinsip terdapat landasan ilmiah yang cukup untuk mendukung langkah mitigasi yang lebih terencana,” ujar Erbi Setiawan, Selasa (5/5/2026).

Dominasi Banjir Akibat Sistem Drainase Perkotaan Dari hasil analisis yang dilakukan, banjir yang terjadi di sejumlah titik lebih banyak disebabkan oleh ketidakmampuan sistem drainase dalam menampung limpasan air hujan atau dikenal sebagai pluvial flooding, dibandingkan dengan luapan sungai (fluvial flooding).

Kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan antara kapasitas infrastruktur yang ada saat ini dengan peningkatan intensitas curah hujan yang terus terjadi.

“Penguatan kapasitas drainase konvensional tetap penting, namun perlu dilengkapi dengan pendekatan yang lebih integratif dan berbasis ekosistem,” lanjut Erbi Setiawan.

Perlunya Pendekatan Terpadu dan Berbasis Ekosistem Menurutnya, penanganan banjir di kawasan perkotaan tidak bisa lagi hanya mengandalkan sistem konvensional seperti saluran drainase dan normalisasi sungai. Diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh, termasuk integrasi antara perencanaan tata ruang, konservasi lingkungan, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Pendekatan berbasis ekosistem ini mencakup berbagai upaya seperti peningkatan ruang terbuka hijau, pengelolaan daerah resapan air, hingga penerapan teknologi ramah lingkungan dalam sistem drainase.

Proyeksi Ilmiah dan Kesiapan Mitigasi Fenomena cuaca ekstrem yang menjadi pemicu banjir sebenarnya telah diperkirakan sebelumnya oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Hal ini, menurut para ahli, seharusnya dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyusun strategi mitigasi yang lebih matang dan terukur.

Dengan adanya landasan ilmiah tersebut, penguatan kebijakan tata kota berbasis air menjadi langkah mendesak untuk mengurangi risiko banjir di masa mendatang.

Momentum Evaluasi Tata Kota Peristiwa banjir yang berulang di Bogor dan Jakarta kini dipandang sebagai momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan lingkungan perkotaan.

Transformasi menuju tata kota yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan berbasis pengelolaan air dinilai bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak demi menjaga keberlanjutan wilayah perkotaan serta keselamatan masyarakat.

Dw.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh