majalahsuaraforum.com – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari, menegaskan bahwa pola komunikasi pemerintah ke depan akan mengalami perubahan signifikan. Menurutnya, pemerintah perlu mengedepankan gaya komunikasi yang lebih aktif, cepat, dan tegas dalam merespons berbagai isu yang berkembang di tengah masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Qodari usai acara serah terima jabatan Kepala Bakom RI yang berlangsung di Auditorium Bakom, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026). Dalam kesempatan itu, ia menyoroti pentingnya pemerintah hadir secara langsung di ruang publik, khususnya dalam menghadapi derasnya arus informasi di era digital.
Qodari menyinggung adanya komentar dari salah satu pengamat di media sosial terkait penunjukan dirinya bersama Hasan Nasbi. Menurut komentar tersebut, keduanya dianggap memiliki gaya komunikasi yang cenderung agresif.
“Ada salah satu pengamat, beliau mengatakan ini kelihatannya Bapak Presiden mau ngajak perang ini karena yang ditunjuk Qodari dengan Hasan Nasbi katanya. Ini katanya duanya ini tipe penyerang, begitu. Wah ini ngajak ribut gitu,” kata Qodari.
Menanggapi hal itu, Qodari menilai bahwa perubahan pendekatan komunikasi memang diperlukan. Ia menegaskan pemerintah tidak bisa terus menerus diam ketika berbagai kritik, opini, maupun serangan narasi terus bermunculan di ruang publik.
“Saya langsung komentar begini, emang maunya situ nyerang-nyerang terus enggak ada yang jawab gitu ya? Gitu. Enak aja, sorry ye,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa arus informasi saat ini bergerak sangat cepat, sehingga pemerintah harus mampu memberikan penjelasan, sudut pandang, dan klarifikasi secara seimbang. Menurutnya, jika pemerintah memilih diam, maka opini yang berkembang hanya akan didominasi oleh satu sisi narasi.
“Karena informasi itu kalau kita diam, dia akan terus datang kepada kita. Jadi kita harus melakukan perimbangan, memberikan perspektif dan pandangan-pandangan. Sampai titik tertentu saya sering bilang di podcast, ya sekarang ini mungkin era di mana your words against my words, gitu loh,” jelasnya.
Lebih lanjut, Qodari menekankan bahwa strategi komunikasi pemerintah tidak cukup hanya proaktif, tetapi harus bergerak lebih jauh dengan pendekatan yang lebih agresif dalam merespons isu-isu yang menyita perhatian masyarakat.
“Jadi bukan cuma proaktif, tapi harus agresif. Nah ini bakal dikutip ramai ini nanti. Nggak apa-apa, your words against my words. Saya yakin dan percaya bahwa publik punya rasionalitasnya sendiri dan mayoritas akan mendukung program-program yang kita kerjakan karena betul-betul ditujukan untuk masyarakat Indonesia,” tuturnya.
Menurut Qodari, perubahan gaya komunikasi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat hubungan dengan masyarakat sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap berbagai program yang dijalankan.
Dengan pendekatan komunikasi yang lebih responsif dan terbuka, pemerintah diharapkan mampu menjawab berbagai isu secara cepat serta menghadirkan informasi yang lebih jelas dan mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Dw.











