Foto.ist
majalahsuaraforum.com – Pemerintah Israel melalui Perdana Menteri, Benjamin Netanyahu, menyatakan dukungan terhadap keputusan Amerika Serikat yang menunda serangan besar terhadap Iran dan memilih jalur gencatan senjata sementara. Namun, Israel menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak berlaku untuk wilayah Lebanon.
Dalam pernyataan resminya, Netanyahu menekankan bahwa langkah AS tetap penting untuk meredam ancaman dari Iran, tetapi kondisi di Lebanon memiliki situasi yang berbeda sehingga tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut.
“Israel mendukung upaya Presiden AS Donald Trump untuk memastikan Iran tidak lagi menimbulkan ancaman nuklir, rudal, dan teror bagi Amerika, Israel, negara-negara tetangga Arab Iran, dan dunia. Namun, gencatan senjata selama dua minggu itu tidak berlaku untuk Lebanon,” tulis Netanyahu pada akun X resminya.
Pernyataan Berbeda dari Pakistan Sikap Israel ini muncul di tengah adanya pernyataan berbeda dari Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif. Ia sebelumnya menyampaikan bahwa kesepakatan gencatan senjata telah disetujui secara luas oleh pihak-pihak terkait.
Menurut Sharif, kesepakatan tersebut tidak hanya berlaku terbatas, melainkan mencakup seluruh wilayah konflik termasuk Lebanon.
“Ini berlaku segera,” ujar Sharif.
Perbedaan pandangan ini menunjukkan belum adanya kesepahaman penuh di antara para pihak terkait mengenai cakupan gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Operasi Militer di Lebanon Terus Berjalan Di sisi lain, laporan dari otoritas Lebanon menyebutkan bahwa serangan militer Israel masih terus berlangsung di wilayah selatan negara tersebut. Salah satu daerah yang terdampak adalah kota Srifa di kawasan Tyre yang menjadi sasaran serangan udara.
Seiring dengan kondisi tersebut, militer Lebanon mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk tidak kembali ke wilayah selatan dalam waktu dekat, mengingat situasi keamanan yang masih belum stabil.
“Mengingat perkembangan regional dan laporan gencatan senjata, warga diminta menunggu sebelum kembali ke desa dan kota di selatan, serta menghindari daerah di mana pasukan pendudukan Israel telah maju karena mereka mungkin akan terpapar serangan Israel yang sedang berlangsung,” bunyi pernyataan militer Lebanon.
Awal Keterlibatan Lebanon dalam Konflik Keterlibatan Lebanon dalam konflik yang lebih luas ini bermula sejak 2 Maret 2026. Saat itu, kelompok Hizbullah yang memiliki hubungan dengan Iran melancarkan serangan udara ke wilayah Israel.
Peristiwa tersebut kemudian memperluas eskalasi konflik antara Israel, Iran, dan sekutunya, sehingga menyeret Lebanon ke dalam situasi perang yang semakin kompleks di kawasan Timur Tengah.
Situasi Masih Memanas Meski terdapat upaya untuk meredakan konflik melalui gencatan senjata antara AS dan Iran, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa ketegangan belum sepenuhnya mereda. Sikap Israel yang tetap melanjutkan operasi militer di Lebanon menjadi indikator bahwa konflik di kawasan tersebut masih jauh dari kata selesai.
Perkembangan ini menegaskan bahwa dinamika geopolitik di Timur Tengah masih sangat fluktuatif dan berpotensi terus berkembang dalam waktu mendatang.
Red.











