Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah, pemerintah Iran mulai melonggarkan kebijakan pelayaran di Selat Hormuz dengan memberikan izin terbatas kepada kapal-kapal dari negara yang dianggap “sahabat”. Meski demikian, dua kapal tanker milik Indonesia hingga kini belum mendapatkan izin untuk melintas.
Kebijakan selektif tersebut terlihat dari keberhasilan kapal tanker milik perusahaan Thailand melewati Selat Hormuz dengan aman pada awal pekan ini. Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, menyebut keberhasilan itu merupakan hasil dari upaya diplomasi intensif dengan pihak Iran.
“Kami memberikan daftar kapal yang akan melintas, dan mereka (Iran) berjanji akan mengurus serta memastikan keselamatannya,” ujar Sihasak.
Langkah ini menjadi penting bagi Thailand, terutama setelah insiden sebelumnya di mana kapal berbenderanya sempat menjadi sasaran serangan di kawasan tersebut.
Kebijakan Selektif Iran Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup, melainkan diatur secara selektif berdasarkan hubungan diplomatik.
“Banyak pemilik kapal, atau negara pemilik kapal-kapal tersebut, telah menghubungi kami dan meminta agar kami memastikan keselamatan pelayaran mereka melalui selat,” ujar Araghchi.
“Untuk sejumlah negara yang kami anggap bersahabat, atau dalam kasus tertentu yang kami nilai perlu, angkatan bersenjata kami telah memberikan pengawalan secara aman,” tambahnya.
Ia juga menyebut beberapa negara yang telah memperoleh izin melintas, antara lain China, Rusia, India, Pakistan, Irak, serta Bangladesh.
Sebaliknya, Iran menegaskan tidak memberikan akses bagi kapal-kapal dari Amerika Serikat, Israel, maupun sekutu mereka.
“Kawasan ini adalah zona perang. Tidak ada alasan bagi kapal-kapal Amerika Serikat, Israel, atau sekutu mereka di Teluk untuk diizinkan melintas,” tegas Araghchi.
Penurunan Aktivitas Pelayaran Data intelijen maritim menunjukkan penurunan drastis aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jika sebelumnya terdapat sekitar 138 kapal yang melintas setiap hari, kini jumlahnya menyusut tajam menjadi hanya sekitar lima hingga enam kapal per hari.
Sebagian besar kapal yang masih beroperasi merupakan kapal yang memiliki afiliasi dengan Iran atau negara-negara yang telah menjalin koordinasi dengan Teheran. Mereka juga cenderung mengambil jalur lebih dekat ke wilayah perairan Iran demi alasan keamanan.
Nasib Kapal Indonesia Sementara itu, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam upaya meloloskan dua kapal tankernya. Hingga 26 Maret 2026, kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro dilaporkan masih tertahan di kawasan Teluk Arab.
Berdasarkan data pelacakan kapal, Pertamina Pride saat ini berada di perairan dekat Dammam, Arab Saudi, sedangkan Gamsunoro berada di sekitar wilayah perbatasan Kuwait dan Irak.
Pihak Pertamina International Shipping memastikan bahwa keselamatan kru dan keamanan kargo tetap menjadi prioritas utama. Selain itu, kondisi ini disebut tidak mengganggu pasokan energi nasional karena armada Pertamina yang cukup besar.
“Kondisi ini dipastikan tidak mengganggu pasokan energi dalam negeri, mengingat Pertamina Group saat ini mengoperasikan 345 kapal,” tegas Pjs Sekretaris Korporat PIS, Vega Pita.
Saat ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus mengintensifkan komunikasi dengan pihak Iran agar kapal-kapal berbendera Indonesia dapat segera memperoleh izin melintas sebagai bagian dari negara yang dianggap “sahabat”.
Situasi ini menunjukkan bahwa jalur diplomasi menjadi faktor kunci dalam menentukan kelancaran distribusi energi di tengah konflik geopolitik yang masih berlangsung.
Red.











