Home / Kabar Berita / Konflik Timur Tengah Mulai Bayangi Pariwisata Indonesia

Konflik Timur Tengah Mulai Bayangi Pariwisata Indonesia

Foto. Ist

majalahsuaraforum.com — Ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap sektor pariwisata Indonesia. Dampak dari konflik tersebut diperkirakan tidak hanya dirasakan di kawasan konflik, tetapi juga dapat memengaruhi arus wisatawan mancanegara yang berkunjung ke berbagai destinasi wisata di Indonesia, termasuk di kawasan wisata populer seperti Candi Prambanan.

Corporate Secretary SVP InJourney, Yudhistira Setiawan, menyampaikan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan situasi global tersebut sambil menyiapkan sejumlah langkah antisipasi guna meminimalkan potensi dampak terhadap industri pariwisata nasional.

“Kondisi geopolitik saat ini kan secara geografis jauh dari kita, kita juga tidak tahu kepastian kapan (perang) akan selesai, tetapi saat ini yang bisa kita lakukan adalah kita mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadapi dampak yang akan timbul,” kata Yudhistira saat berada di Sleman, Yogyakarta pada 13 Maret 2026.

Menurutnya, konflik yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah berpotensi memengaruhi jumlah wisatawan yang datang ke Indonesia. Hal ini karena sebagian wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta dan destinasi lain yang dikelola InJourney berasal dari negara-negara di wilayah tersebut.

“Kalau kita bicara dampak terhadap pariwisata yang ada, pasti akan berdampak. karena kan banyak juga wisatawan yang ada di Yogyakarta atau destinasi wisata Injourney ini juga berasal dari area Timur Tengah,” ujarnya.

Selain sektor pariwisata, dampak konflik juga mulai terasa di sektor penerbangan. Beberapa maskapai dari Timur Tengah dilaporkan mengalami keterlambatan bahkan penghentian sementara penerbangan di sejumlah bandara internasional di Indonesia.

Yudhistira mengungkapkan bahwa sejumlah pesawat dari maskapai besar Timur Tengah seperti Emirates, Qatar Airways, Etihad Airways, dan Saudia sempat tertahan di beberapa bandara internasional Indonesia.

“Dampak sudah sangat terasa di bandara di mana banyak sekali pesawat asing, khususnya dari timur tengah seperti Emirates, Qatar, Etihad, Saudia, itu stranded di bandara-bandara internasional kita seperti di Bali, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta,” ungkapnya.

Di sisi lain, kondisi tersebut juga dinilai dapat membuka peluang bagi pengelola bandara di Indonesia. InJourney saat ini tengah mengkaji kemungkinan untuk menawarkan bandara-bandara yang mereka kelola sebagai lokasi penyimpanan sementara bagi pesawat yang terdampak konflik sebelum kembali beroperasi normal.

“Ini inisiatif yang kami lakukan, kami menawarkan bandara-bandara yang ada di Indonesia, yang dikelola Injourney akan menjadi tempat untuk penyimpanan pesawat-pesawat yang stranded sebelum mereka nanti kembali ke negaranya,” jelasnya.

Selain langkah tersebut, InJourney juga menegaskan akan tetap fokus memperkuat sektor pariwisata domestik. Upaya ini dilakukan melalui peningkatan berbagai aktivitas wisata, atraksi destinasi, serta peningkatan kualitas layanan kepada wisatawan.

“Selain inisiatif tersebut, kami juga tetap mengedepankan kepentingan domestik, di mana aktivasi-aktivasi obyek wisata, atraksi-atraksi, dan juga peningkatan pelayanan di bidang hospitality dan juga customer experience, tetap kami tingkatkan tujuannya untuk paling tidak kita menjaga ataupun menjaga angka kedatangan wisatawan ya semaksimal mungkin,” tutup Yudhistira.

Aan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh