majalahsuaraforum.com – Indonesia tercatat melakukan impor bijih nikel dalam jumlah besar sepanjang tahun 2025. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan volume impor bijih nikel mencapai 15,84 juta ton, dengan mayoritas pasokan berasal dari Filipina.
Dari total impor tersebut, sekitar 97% atau 15,33 juta ton bijih nikel didatangkan dari negara tersebut.
Menanggapi hal ini, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, menegaskan bahwa kebijakan impor ini tidak perlu dikhawatirkan karena bertujuan mendukung proses industrialisasi di dalam negeri.
“Enggak, enggak (khawatir) tujuannya untuk industrialisasi kan industrinya di Indonesia ya,” ujar Tri di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Impor Diperkirakan Masih Berlanjut Tahun Ini Tri juga menyampaikan bahwa pada tahun 2026, impor bijih nikel dari Filipina masih berada pada kisaran yang sama, yakni sekitar 15 juta ton.
Menurutnya, hal terpenting bukan sekadar asal bahan baku, melainkan bahwa proses pengolahan tetap dilakukan di Indonesia sehingga manfaat ekonominya tetap dirasakan oleh negara.
Ia menekankan bahwa aktivitas ini memberikan efek berantai atau multiplier effect, baik dalam bentuk investasi, penciptaan lapangan kerja, maupun peningkatan penerimaan negara.
Pengolahan Dalam Negeri Jadi Kunci Manfaat Ekonomi Tri membandingkan situasi ini dengan pengalaman negara lain yang pernah mengimpor bijih nikel dari Indonesia untuk diolah di luar negeri.
“Kemudian kalau misalnya kita lihat negara-negara lain misalnya, dulu si Prancis impor ore dari Indonesia terus kemudian kita badia protes gitu-gitu. Kan ya industrinya asal di negara itu saya rasa. Jadi multiplier effect-nya kita dapat gitu,” ujarnya.
Ia menilai bahwa selama proses pengolahan dilakukan di Indonesia, maka keuntungan ekonomi utama tetap berada di dalam negeri.
Produksi Nikel Akan Disesuaikan dengan Kapasitas Smelter Sebagai tambahan informasi, Kementerian ESDM juga berencana melakukan penyesuaian terhadap jumlah produksi nikel nasional. Produksi akan diselaraskan dengan kapasitas smelter yang saat ini berada pada kisaran 250–260 juta ton per tahun.
Langkah tersebut dilakukan agar produksi tetap seimbang dengan kemampuan industri pengolahan yang tersedia.
Lan.











