majalahsuaraforum.com – Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau Food and Agriculture Organization (FAO) melaporkan bahwa harga pangan dunia mengalami penurunan sebesar 0,4% pada Januari 2026. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh melemahnya harga pada beberapa kelompok komoditas seperti produk susu, gula, dan daging.
FAO mencatat bahwa tren penurunan ini menunjukkan adanya pergerakan harga yang lebih stabil setelah beberapa bulan terakhir mengalami penurunan berturut-turut.
Indeks Harga Pangan FAO Turun Menjadi 123,9 Poin Dalam laporan resminya, Indeks Harga Pangan FAO, yang digunakan untuk memantau perubahan bulanan harga komoditas pangan internasional yang diperdagangkan secara global, tercatat turun menjadi 123,9 poin pada Januari 2026.
Penurunan ini sekaligus menjadi penurunan bulanan kelima secara beruntun, sebagaimana dilaporkan Anadolu pada Sabtu (7/2/2026).
Tidak Semua Komoditas Mengalami Penurunan Meski indeks secara keseluruhan menurun, FAO menjelaskan bahwa tidak semua kelompok komoditas mengalami tren serupa.
Minyak Nabati Justru Naik 2,1% Indeks harga minyak nabati mengalami kenaikan sebesar 2,1%. Kenaikan ini dipicu oleh perlambatan produksi musiman di kawasan Asia Tenggara, serta meningkatnya permintaan untuk kebutuhan biofuel.
Harga Sereal Mengalami Kenaikan Terbatas Sementara itu, indeks harga sereal mencatat kenaikan kecil sebesar 0,2%. Kenaikan ini terutama didorong oleh lonjakan harga beras sebesar 1,8%, walaupun pasokan global untuk gandum dan jagung masih dinilai cukup melimpah.
Gula, Susu, dan Daging Turun Signifikan Di sisi lain, beberapa komoditas utama justru mengalami penurunan cukup jelas.
Harga Gula Turun 1% Indeks harga gula turun sebesar 1%, yang dipengaruhi oleh pemulihan produksi di India serta proyeksi produksi positif dari Thailand.
Produk Susu Turun 5% Indeks harga susu mengalami penurunan tajam sebesar 5% dibanding Desember 2025, terutama akibat kelebihan pasokan keju dan mentega di pasar internasional.
Harga Daging Turun 0,4% Indeks harga daging juga tercatat turun 0,4%, seiring melemahnya permintaan global serta meningkatnya pasokan daging babi.
Proyeksi Produksi Sereal Global Direvisi Naik Dalam laporan terbaru yang sama, FAO juga merevisi naik proyeksi produksi sereal dunia untuk tahun 2025 menjadi 3,023 miliar ton.
Peningkatan ini didukung oleh membaiknya hasil panen gandum di sejumlah wilayah seperti Argentina, Kanada, dan Uni Eropa.
Produksi Jagung Global Menguat Berkat China dan AS FAO menyebut bahwa perluasan area tanam jagung di China dan Amerika Serikat turut berkontribusi terhadap peningkatan produksi jagung global.
Organisasi tersebut juga memperkirakan bahwa rasio stok terhadap penggunaan sereal global dapat mencapai 31,8%, yang merupakan level tertinggi sejak tahun 2001.
Lan.











