majalahsuaraforum.com – Libya kembali diguncang kabar mengejutkan. Saif al-Islam Gaddafi, putra mendiang pemimpin Libya Muammar Gaddafi, dilaporkan tewas dalam dugaan aksi pembunuhan yang terjadi di kota Zintan, wilayah barat Libya, pada Selasa (3/2/2026) malam.
Informasi tersebut pertama kali disampaikan oleh pengacaranya, Khaled al-Zaidi, serta penasihatnya, Abdullah Osman. Sejumlah media lokal melaporkan bahwa serangan terjadi di kediaman Saif al-Islam dan diduga dilakukan oleh empat orang tak dikenal.
Para pelaku disebut telah menonaktifkan kamera pengawas (CCTV) sebelum melancarkan aksi mereka, sehingga situasi di lokasi kejadian sulit dipastikan secara rinci.
Kejaksaan Libya Buka Penyelidikan Resmi Menanggapi laporan tersebut, Kantor Kejaksaan Agung Libya telah membuka penyelidikan resmi terkait dugaan pembunuhan Saif al-Islam Gaddafi.
Namun hingga kini, detail kejadian masih simpang siur. Pemerintah Libya juga belum mengeluarkan pernyataan resmi yang mengonfirmasi kabar kematian putra tokoh penting era rezim Gaddafi tersebut.
Moussa Ibrahim Luapkan Kemarahan Mantan juru bicara rezim Gaddafi, Moussa Ibrahim, mengungkapkan kemarahannya melalui unggahan di media sosial.
“Mereka membunuhnya dengan kejam ketika dia menginginkan Libya yang bersatu dan berdaulat, aman bagi seluruh rakyatnya. Mereka membunuh harapan dan masa depan, serta menanamkan kebencian dan permusuhan,” tulis Ibrahim.
Ia menambahkan bahwa pembunuhan tersebut diduga memiliki motif untuk menciptakan pertumpahan darah baru serta memperbesar perpecahan di Libya demi kepentingan pihak asing.
Brigade 444 Bantah Keterlibatan Di tengah kabar yang beredar luas, kelompok bersenjata “Brigade 444” yang berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan Pemerintah Persatuan Nasional juga mengeluarkan pernyataan tegas.
Mereka membantah adanya keterlibatan dalam bentrokan di Zintan maupun laporan tentang tewasnya Saif al-Islam yang ramai beredar di media sosial.
Saif al-Islam Tinggal di Zintan Sejak 2011 Saif al-Islam diketahui telah menetap di Zintan sejak ditangkap dalam revolusi Libya pada 2011.
Walaupun sempat dibebaskan pada 2017, lokasi keberadaannya selama ini dirahasiakan dari publik dengan alasan keamanan, mengingat posisinya yang sensitif dalam peta politik Libya.
Dampak Besar bagi Politik Libya Jika kabar kematiannya benar terkonfirmasi, insiden ini diperkirakan akan menjadi pukulan besar bagi perkembangan politik Libya.
Dalam beberapa tahun terakhir, nama Saif al-Islam kembali mencuat sebagai salah satu kandidat kuat dalam pemilihan presiden yang diharapkan mampu mengakhiri krisis panjang di negara tersebut.
Saat ini Libya masih terbelah menjadi dua kekuatan utama:
Wilayah barat (Tripoli), dipimpin oleh Abdul Hamid Dbeibeh Wilayah timur (Benghazi), berada di bawah kendali Osama Hammad yang ditunjuk parlemen
Peristiwa ini dikhawatirkan memicu instabilitas baru di tengah berbagai upaya internasional untuk menyatukan kembali Libya, negara yang kaya akan sumber daya minyak namun terus dilanda konflik berkepanjangan.
Red.











