majalahsuaraforum.com – Situasi kemanusiaan di Sudan kembali memburuk setelah pertempuran antara tentara Sudan dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) meluas ke wilayah Kordofan. Lebih dari 36.000 warga sipil terpaksa meninggalkan kota dan desa mereka akibat meningkatnya eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Laporan resmi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin (3/11/2025) menyebutkan bahwa ribuan warga mengungsi dari berbagai wilayah di Kordofan bagian timur Darfur setelah bentrokan sengit terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Wilayah Kordofan Tengah kini menjadi medan pertempuran baru dalam perang saudara yang telah berlangsung selama dua tahun. Kawasan ini dinilai memiliki posisi penting karena terletak di antara provinsi Darfur dan wilayah sekitar Khartoum, yang menjadikannya titik strategis bagi kedua kubu yang bertikai.
RSF Kuasai El-Fasher, Bentuk Pemerintahan Saingan Ketegangan meningkat tajam hanya sepekan setelah RSF berhasil merebut kota El-Fasher, benteng terakhir militer Sudan di wilayah Darfur. Setelah kemenangan tersebut, pasukan RSF membentuk pemerintahan tandingan untuk menyaingi pemerintahan promiliter yang kini berpusat di Port Sudan, di tepi Laut Merah.
Menurut Organisasi Migrasi Internasional (IOM) di bawah naungan PBB, sekitar 36.825 warga telah meninggalkan sedikitnya lima wilayah di Kordofan Utara antara 26 dan 31 Oktober 2025. Laporan itu juga menyebutkan adanya peningkatan besar dalam mobilisasi pasukan dari kedua pihak di berbagai lokasi.
Perebutan El-Obeid Jadi Fokus Pertempuran Kedua kubu kini memusatkan pertempuran di kota El-Obeid, ibu kota Kordofan Utara, yang merupakan jalur logistik vital antara Darfur dan Khartoum. Kota ini juga memiliki bandara strategis yang menjadi rebutan kedua belah pihak.
RSF mengklaim telah menguasai Bara, sebuah kota di utara El-Obeid, pada pekan lalu. Dalam video yang diunggah melalui kanal Telegram resmi RSF, seorang anggota pasukan menyampaikan bahwa mereka telah siap di garis depan dan memperingatkan warga agar tidak mendekati area militer.
“Hari ini seluruh pasukan kami telah berada di garis depan Bara. Kami memperingatkan warga sipil agar tidak mendekati area militer,” ujar anggota RSF dalam video tersebut.
Warga Ketakutan dan Aktivitas Ekonomi Lumpuh Warga sipil di berbagai wilayah melaporkan meningkatnya jumlah kendaraan militer dan aktivitas pasukan bersenjata. Suleiman Babiker, warga Um Smeima di barat El-Obeid, mengaku bahwa masyarakat kini takut keluar rumah karena risiko bentrokan semakin besar.
“Kami berhenti pergi ke ladang karena takut bentrokan,” katanya.
Sementara itu, seorang warga lain yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan telah melihat banyak kendaraan tempur RSF di wilayah barat dan selatan El-Obeid dalam dua minggu terakhir. Kondisi ini membuat warga kesulitan memperoleh kebutuhan pokok dan layanan kesehatan.
Krisis Kemanusiaan Terus Memburuk Konflik yang meluas ke Kordofan memperparah krisis kemanusiaan yang telah melanda Sudan selama dua tahun terakhir. Ribuan warga kini hidup di kamp-kamp pengungsian yang penuh sesak, dengan akses terbatas terhadap air bersih, makanan, dan obat-obatan.
PBB serta lembaga-lembaga kemanusiaan internasional mendesak kedua pihak untuk segera menghentikan pertempuran dan membuka jalur aman bagi pengiriman bantuan kemanusiaan. Namun, hingga kini situasi di lapangan masih tegang dan berpotensi memicu gelombang pengungsian yang lebih besar.
Perang saudara yang pecah sejak 2023 telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan warga Sudan meninggalkan tempat tinggal mereka. Kini, dengan Kordofan menjadi titik konflik terbaru, harapan perdamaian di negara tersebut semakin jauh dari kenyataan.
Red.











