majalahsuaraforum.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sejak gencatan senjata mulai diberlakukan di Gaza pada 11 Oktober 2025, sebanyak 89 orang tewas dan 317 lainnya mengalami luka-luka.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menekankan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza masih jauh dari berakhir. Ia menyebut bahwa kebutuhan medis, pangan, dan bantuan kemanusiaan bagi penduduk wilayah tersebut masih sangat besar.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 29 September 2025 mengumumkan rencana perdamaian 20 poin untuk Gaza. Rencana tersebut mencakup gencatan senjata segera, dengan syarat seluruh sandera dibebaskan dalam waktu 72 jam.
Dokumen itu juga mengusulkan agar Hamas dan kelompok bersenjata Palestina lainnya tidak terlibat dalam pemerintahan Gaza. Kendali wilayah akan diserahkan kepada komite teknokrat di bawah pengawasan badan internasional yang dipimpin Trump.
Pada 9 Oktober 2025, Israel dan Hamas mencapai kesepakatan tahap pertama dari rencana perdamaian untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama dua tahun di Jalur Gaza. Empat hari kemudian, pada 13 Oktober, Presiden Trump bersama Presiden Mesir Abdel Fattah Sisi, Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menandatangani deklarasi gencatan senjata Gaza.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Hamas membebaskan 20 sandera yang masih hidup, ditahan sejak 7 Oktober 2023. Sebagai imbalannya, Israel membebaskan 1.718 tahanan Palestina dari Gaza dan 250 tahanan dari penjara Israel.
Meski gencatan senjata telah berlaku, Israel tetap membatasi masuknya truk-truk bantuan kemanusiaan ke Gaza, sehingga akses terhadap bantuan vital bagi penduduk masih sangat terbatas.
Red.











