Home / Ekonomi / Pemerintah Dorong Hilirisasi Bauksit, Bahlil Tegaskan Pentingnya Pembangunan Smelter Aluminium

Pemerintah Dorong Hilirisasi Bauksit, Bahlil Tegaskan Pentingnya Pembangunan Smelter Aluminium

majalahsuaraforum.com – Pemerintah terus memperkuat kebijakan hilirisasi sumber daya mineral melalui pelarangan ekspor bahan mentah bauksit. Kebijakan ini dimaksudkan untuk mendorong peningkatan investasi di sektor pengolahan serta memperluas kapasitas produksi dalam negeri terhadap produk turunan bauksit seperti aluminium.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa saat ini terdapat sejumlah perusahaan yang telah menunjukkan minat untuk membangun fasilitas pengolahan atau smelter bauksit di Indonesia. Ia menilai kondisi tersebut menjadi langkah positif, mengingat kebutuhan nasional terhadap produk turunan bauksit masih tinggi sementara kapasitas produksi domestik belum mampu mencukupi.

“Saat ini kita masih banyak impor, produk-produk turunan dari bauksit seperti alumunium. Jadi kebutuhan dalam negeri dengan kapasitas industri masih lebih besar. Jadi tidak masalah, masih aman untuk membangun smelter bauksit,” jelas Bahlil dalam konferensi pers di ajang Minerba Convex 2025 yang berlangsung di JCC Senayan, Rabu (15/10/2025).

Menurut Bahlil, secara nasional total kapasitas smelter bauksit yang sudah beroperasi baru mencapai sekitar 17,5 juta ton. “Dari semua smelter yang sudah ada, kapasitasnya 17,5 juta terhadap barang bakunya,” ujarnya.

Lebih jauh, Bahlil menegaskan bahwa pelarangan ekspor bahan mentah bauksit merupakan langkah strategis dalam memperkuat agenda hilirisasi energi dan sumber daya mineral yang telah dicanangkan pemerintah. “Bauksit ini menjadi salah satu komoditas yang akan kita dorong untuk hilirisasi. Kita juga sudah melarang ekspor bahan mentahnya,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan, kebijakan tersebut diarahkan untuk mencapai target investasi hilirisasi minerba dengan nilai mencapai US$ 7 miliar hingga US$ 8 miliar. “Realisasinya sudah mencapai US$ 3,8 miliar sampai US$ 4 miliar hingga Agustus lalu,” ungkapnya.

Selain itu, Bahlil menyoroti potensi besar yang dimiliki Kalimantan Barat sebagai daerah dengan cadangan bauksit paling melimpah di Indonesia. Menurutnya, sumber daya tersebut perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin guna memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

“Karena bijih bauksit paling banyak berada di Kalimantan Barat. Kenapa ini harus dibangun? Karena kebutuhan kita besar, separuh kebutuhan itu masih impor,” paparnya.

Melalui kebijakan hilirisasi dan pembangunan smelter baru, pemerintah berharap Indonesia mampu memperkuat rantai industri aluminium nasional, mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, serta membuka lapangan kerja yang lebih luas di sektor pertambangan dan pengolahan mineral.

Lan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh