majalahsuaraforum.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menimbulkan kontroversi setelah mengancam akan mengerahkan “Departemen Perang” ke Chicago. Ancaman tersebut memicu kecaman keras dari Gubernur Illinois, JB Pritzker, yang menyebut langkah Trump tidak wajar dan berbahaya.
Melalui unggahan di platform X, Pritzker menulis, “Presiden Amerika Serikat mengancam akan berperang dengan sebuah kota di Amerika. Ini bukan lelucon. Ini tidak normal.”
Ia juga menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan tunduk pada tekanan Trump. “Illinois tidak akan terintimidasi oleh seorang calon diktator,” tambah Pritzker.
Trump Sebut Chicago “Lubang Neraka”
Sebelumnya, Trump telah menyampaikan rencananya untuk mengirim pasukan ke Chicago, kota terbesar ketiga di Amerika Serikat sekaligus basis kuat Partai Demokrat. Trump menggambarkan Chicago sebagai “lubang neraka” yang penuh dengan tindak kejahatan.
Dalam pernyataannya di Gedung Putih pada Selasa (2/9/2025) waktu setempat, Trump berkata, “Kita akan masuk,” merujuk pada pengerahan tentara ke Chicago. Namun, ia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai waktu pelaksanaan operasi tersebut.
Melalui akun resmi Truth Social, Trump juga menulis, “Chicago akan segera mengetahui mengapa disebut Departemen Perang.” Unggahan itu disertai gambar AI dirinya dengan kutipan parodi: “Saya suka bau deportasi di pagi hari,” yang merujuk pada film Apocalypse Now (1979). Dalam film itu, karakter Letnan Kolonel Bill Kilgore sebenarnya mengucapkan kalimat tentang “napalm,” bukan “deportasi.”
Ketegangan Politik Kian Meningkat
Ancaman Trump untuk mengerahkan pasukan menambah eskalasi ketegangan politik di Amerika Serikat, khususnya di kota-kota yang dipimpin oleh Partai Demokrat. Chicago kini menjadi titik panas dalam perdebatan antara pemerintah federal dan pemerintah negara bagian terkait penggunaan militer di wilayah sipil.
Langkah Trump mengganti nama Departemen Pertahanan menjadi “Departemen Perang” sebelumnya juga sudah menimbulkan kontroversi. Kini, ancaman terbaru ini semakin memperburuk hubungan antara Gedung Putih dengan para pemimpin daerah oposisi.
Pen. Red.











