majalahsuaraforum.com –– Dunia kembali diguncang kabar duka dari Jalur Gaza. Omar Harb, seorang penyair dan cendekiawan Palestina terkemuka, meninggal dunia akibat kondisi kelaparan yang semakin parah di wilayah tersebut. Kematian Harb menjadi simbol nyata dari penderitaan rakyat Gaza di tengah blokade ketat Israel.
Menurut laporan media Mesir Youm7, Omar Harb wafat pada Kamis (4/9/2025) setelah kondisi fisiknya menurun drastis selama beberapa minggu terakhir. Kekurangan gizi yang ia alami membuat kesehatannya kian memburuk hingga akhirnya tidak tertolong.
Tiga minggu sebelum meninggal, Harb sempat berbicara dalam wawancara dengan Al Jazeera. Dalam kesempatan itu, ia menceritakan betapa berat penderitaan yang harus ditanggungnya. Selain tubuhnya yang terus melemah, ia juga kehilangan sedikitnya 26 anggota keluarga, termasuk istri, anak-anak, cucu-cucu, serta lima rumah keluarganya yang hancur akibat serangan Israel.
“Saya melihat foto-foto saya sebelum dan sesudah, dan saya berpikir tidak mungkin orangnya sama,” ungkap Harb dalam wawancara tersebut.
Sebelum Oktober 2023, Harb memiliki berat badan hampir 120 kilogram. Namun, akibat krisis pangan dan blokade berkepanjangan, berat badannya anjlok drastis hingga berada di bawah 40 kilogram pada saat terakhir ia muncul di media. Ia sempat memohon bantuan berupa makanan, obat-obatan, dan kursi roda baru. Sayangnya, semua kebutuhan mendesaknya itu tidak sempat terpenuhi hingga akhir hayatnya.
Harb merupakan lulusan Universitas Al-Azhar Mesir dan dikenal luas sebagai sosok intelektual, penulis, sekaligus penyair yang tetap konsisten berkarya sampai agresi militer Israel melumpuhkan Gaza. Kehilangan dirinya bukan hanya duka bagi keluarga dan rakyat Palestina, tetapi juga bagi dunia sastra internasional.
Otoritas kesehatan Palestina menyebutkan bahwa hingga kini 370 warga Gaza telah meninggal dunia akibat kelaparan, dengan mayoritas korban adalah anak-anak, perempuan, dan lansia. Sementara itu, sekitar 1,9 juta penduduk mengalami kekurangan gizi, dan 641.000 di antaranya berada dalam kondisi kelaparan paling parah.
Kisah tragis Omar Harb menegaskan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza bukan sekadar bencana alam, melainkan “bencana buatan manusia” akibat blokade Israel yang terus berlangsung tanpa solusi.
Pen. Red.











