Majalahsuaraforum.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyuarakan ketidakpuasannya terhadap langkah tiga negara sekutu utama AS—Prancis, Inggris, dan Kanada—yang secara terbuka menyatakan niat untuk mengakui negara Palestina dalam waktu dekat. Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada Kamis, 31 Juli 2025, waktu setempat.
Ketiga negara tersebut mengumumkan bahwa mereka akan secara resmi mengakui Palestina sebagai negara pada bulan September 2025, sebuah langkah yang memperkuat posisi pro-Palestina di panggung global, tetapi memicu reaksi keras dari Gedung Putih.
Meskipun Trump mengkritik keputusan tersebut secara umum, ia menunjukkan perbedaan nada dalam menyikapi masing-masing pemimpin. Kritiknya terhadap Kanada terdengar paling keras, sedangkan terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Trump menyampaikan penilaiannya dengan lebih moderat.
Dalam tanggapannya terhadap pengumuman dari Macron, Trump menyebut keputusan itu sebagai sesuatu yang “tidak penting” dan “tidak memiliki pengaruh besar.” Pekan lalu, Macron memang lebih dulu memicu gelombang pernyataan pro-Palestina di dunia internasional dengan menyampaikan bahwa Prancis akan mengakui negara Palestina.
Langkah tersebut kemudian diikuti oleh Inggris, dengan PM Starmer menyatakan bahwa pengakuan terhadap Palestina akan diberikan pada September, kecuali jika Israel mengambil langkah konkret, seperti menyepakati gencatan senjata di Gaza.
Menanggapi keputusan Inggris, Trump menyampaikan bahwa dirinya “jujur saja, tidak berada di kubu itu.” Hal ini mengindikasikan penolakan tegas terhadap ide pengakuan negara Palestina tanpa syarat yang diinginkan oleh sebagian komunitas internasional.
Karoline Leavitt menambahkan bahwa Trump menilai pengakuan terhadap Palestina sama saja dengan memberi hadiah kepada Hamas, organisasi yang menurutnya merupakan penghalang utama bagi gencatan senjata dan pembebasan sandera.
> “Presiden Trump yakin bahwa mendorong pengakuan negara Palestina saat ini hanya akan memperkuat Hamas, yang justru menjadi hambatan nyata dalam mencapai perdamaian dan pembebasan semua sandera,” ujar Leavitt.
Sementara itu, di dunia internasional, langkah Prancis, Inggris, dan Kanada ini dianggap sebagai lonceng perubahan kebijakan global terhadap Palestina. Negara-negara tersebut tampaknya makin tidak sabar dengan kebuntuan konflik di Gaza dan mulai mengambil sikap independen di luar orbit kebijakan AS.
Terkait respons resmi dari Israel, belum ada pernyataan yang dirilis dalam laporan ini. Namun, sebelumnya, pemerintah Israel telah memperingatkan bahwa langkah pengakuan sepihak terhadap negara Palestina berpotensi menghambat proses perdamaian dan memperburuk situasi di wilayah konflik.
Pen. Red.











