majalahsuaraforum.com – Amien Rais, salah satu tokoh penting dalam sejarah reformasi Indonesia, kembali menjadi sorotan publik akibat dinamika yang terjadi di partai politik yang ia dirikan sendiri, Partai Ummat. Sepanjang perjalanan karier politiknya, Amien Rais dikenal sebagai sosok yang vokal dan kontroversial. Namun, ia juga kerap menghadapi tantangan besar, baik dalam kancah politik nasional maupun dalam internal partai.
Salah satu titik balik dalam karier politik Amien terjadi pada Pemilihan Presiden 2004. Saat itu, ia maju sebagai calon presiden dengan dukungan dari delapan partai politik, termasuk Partai Amanat Nasional (PAN) yang ia dirikan pada era reformasi. Namun, langkah politiknya tidak berjalan mulus. Amien hanya mampu meraih 14,66 persen suara, yang membuatnya gagal melaju ke putaran kedua. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi reputasi politiknya dan menandai awal dari penurunan pengaruhnya di panggung nasional.
Setelah sekian lama menjadi simbol dan pemimpin moral di PAN, hubungan Amien dengan partai tersebut mulai merenggang. Pada tahun 2020, menjelang Kongres V PAN, ketegangan antara Amien dan kepengurusan partai kian memanas. Ia tidak lagi memiliki pengaruh kuat seperti dahulu, bahkan tidak diberi ruang dalam pengambilan keputusan strategis. Akhirnya, Amien memilih keluar dari PAN, partai yang ia dirikan pada 1998 bersama sejumlah tokoh reformasi.
Tidak berhenti di situ, Amien kemudian mendirikan Partai Ummat pada 2021, dengan visi membawa nilai-nilai Islam dan keadilan dalam politik nasional. Ia menjabat sebagai Ketua Majelis Syura partai tersebut. Namun, konflik internal kembali mewarnai kiprahnya. Sejumlah pengurus wilayah dan daerah Partai Ummat melayangkan protes terkait Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai yang dinilai tidak demokratis dan terlalu sentralistik.
Para pengurus yang merasa kecewa menyebut tidak adanya ruang aspirasi dalam struktur partai, serta dominasi Majelis Syura dalam pengambilan keputusan. Jika tidak ada respon dari Kementerian Hukum dan HAM, mereka bahkan merencanakan langkah hukum dengan menggugat AD/ART ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).
Kritik dari kadernya sendiri menunjukkan bahwa Partai Ummat belum sepenuhnya bebas dari konflik internal, meskipun didirikan dengan semangat reformasi dan perubahan. Hal ini menjadi ironi tersendiri bagi Amien Rais, yang selama ini dikenal sebagai tokoh yang memperjuangkan demokrasi dan kebebasan politik.
Perjalanan politik Amien Rais mencerminkan lika-liku dunia perpolitikan Indonesia pasca-reformasi. Dari menjadi ikon perubahan, kandidat presiden, hingga menghadapi perpecahan dalam partai yang ia bangun, Amien terus menjadi bagian dari narasi besar politik Indonesia—baik sebagai inspirator maupun tokoh yang tak lepas dari kontroversi.
Pen. Nala.











