Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menyatakan sampai saat ini belum menerima nota protes resmi dari negara-negara tetangga berkaitan dengan kabut asap yang muncul akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.
Juru Bicara I Kemenlu, Yvonne Mewengkang, menjelaskan bahwa pihaknya belum memperoleh nota protes dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara maupun negara tetangga Indonesia terkait dampak asap karhutla.
“Kami tidak menerima nota protes dari negara-negara di kawasan maupun negara-negara tetangga. Sampai saat ini, kami tidak menerimanya,” kata Yvonne di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Meski belum ada nota protes yang diterima, Yvonne menegaskan kondisi tersebut tidak berarti pemerintah Indonesia mengesampingkan dampak kabut asap yang turut dirasakan oleh sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Beberapa wilayah di negara tetangga, termasuk Singapura, Malaysia, dan Filipina, dilaporkan merasakan dampak dari kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Juru Bicara II Kemenlu, Vahd Nabyl A Mulachela, mengatakan pemerintah Indonesia tetap mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan tanpa menunggu adanya keluhan atau nota protes dari negara lain.
Menurut Vahd, penanganan karhutla dilakukan melalui pengerahan personel serta armada pemadam dalam jumlah besar. Pemerintah juga terus memperkuat proses penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang terbukti melakukan pembakaran hutan maupun lahan.
Penanganan kebakaran tidak hanya dilakukan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sejumlah unsur lintas sektor turut dilibatkan, mulai dari masyarakat hingga pelaku usaha dan pihak swasta.
“Kemenlu juga terus berkoordinasi, dialog, dan komunikasi dengan negara-negara tetangga agar dapat mengatasi isu ini secara bersama-sama,” ucap Vahd.
Jumlah Titik Panas Mulai Berkurang Di sisi lain, data SiPongi yang menggunakan hasil pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 menunjukkan adanya penurunan jumlah titik panas di Indonesia.
Hingga Selasa (15/9/2026) pukul 21.05 WIB, terdeteksi sebanyak 1.037 titik panas di berbagai wilayah Indonesia. Angka tersebut berkurang 400 titik jika dibandingkan dengan sehari sebelumnya yang mencapai 1.437 titik panas.
Walaupun jumlah titik panas mengalami penurunan, laporan mengenai dampak kabut asap masih muncul dari sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Asap akibat karhutla di Indonesia dilaporkan telah mencapai wilayah Sabah dan Sarawak di Malaysia. Selain itu, dampaknya juga disebut terasa di Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina, termasuk wilayah Manila.
Sebelumnya, pemerintah Malaysia sempat menetapkan keadaan darurat akibat kabut asap di Serian, Sarawak, pada Sabtu (5/9/2026). Daerah tersebut diketahui berada di wilayah yang berbatasan langsung dengan Indonesia.
Namun, status keadaan darurat yang diberlakukan di Serian tersebut kemudian telah dicabut oleh pemerintah Malaysia.
Red.











