Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi untuk mengakhiri konflik dengan Iran tanpa harus terlebih dahulu mencapai kesepakatan terkait program nuklir Teheran.
Informasi tersebut disampaikan Trump secara pribadi kepada sejumlah penasihat seniornya. Hal itu dilaporkan Wall Street Journal (WSJ) dengan mengutip pejabat Amerika Serikat pada Senin (10/8/2026).
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump disebut sedang menyiapkan rencana untuk menyatakan kemenangan AS dalam konflik tersebut apabila Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz secara penuh.
Dalam pembicaraan dengan para penasihatnya, Trump juga menyampaikan keinginannya untuk menyetujui kesepakatan dengan Iran meskipun kesepakatan tersebut tidak secara khusus mencakup perjanjian nuklir.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada WSJ bahwa Amerika Serikat menilai seluruh sasaran militer yang ditetapkan terhadap Iran telah berhasil dicapai.
Saat ini, perhatian Trump disebut lebih diarahkan pada upaya memastikan jalur distribusi dan pasokan energi tetap berjalan melalui Selat Hormuz. Kendati demikian, Washington masih menyiapkan kemungkinan melakukan operasi militer apabila Iran terus melancarkan serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di kawasan tersebut.
Dalam pembicaraan bersama penasihat seniornya, Trump juga menyatakan keyakinannya bahwa Iran tidak akan kembali menjalankan program nuklir selama dirinya masih menjabat sebagai Presiden AS.
Keyakinan tersebut dikaitkan dengan klaim Trump bahwa militer Amerika Serikat telah menghancurkan tiga fasilitas nuklir Iran pada 2025.
Dalam sejumlah pertemuan yang berlangsung belakangan ini, Trump juga disebut meyakini ancaman serangan militer dari AS sudah cukup memberikan efek gentar kepada Teheran.
Para pejabat AS memberikan indikasi bahwa Trump dapat memilih untuk memperpanjang masa gencatan senjata tanpa menentukan batas waktu tertentu. Langkah tersebut dapat ditempuh apabila Washington berhasil memastikan program nuklir Iran tetap berada dalam kendali.
Selain itu, Trump disebut mempertimbangkan pencabutan blokade Amerika Serikat terhadap sejumlah pelabuhan Iran apabila Teheran bersedia membuka Selat Hormuz secara penuh.
Pembukaan Selat Hormuz kini menjadi salah satu elemen penting dalam pembahasan mengenai kemungkinan berakhirnya konflik. Selat tersebut merupakan jalur strategis yang digunakan untuk pergerakan pasokan energi sekaligus aktivitas perdagangan internasional.
Sebelumnya, Trump juga menyatakan telah meminta agar serangan lanjutan terhadap Iran dibatalkan. Keputusan itu diambil di tengah harapan bahwa kedua negara dapat mencapai kesepakatan damai.
Kesepakatan tersebut diharapkan dapat mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta penyelesaian persoalan yang berkaitan dengan program nuklir Iran.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran pada Rabu (5/8/2026) menyatakan bahwa Iran bersama Oman telah mencapai kesepakatan mengenai rincian geografis sejumlah jalur pelayaran yang dapat digunakan kapal-kapal untuk melewati Selat Hormuz dengan aman.
Kesepakatan Iran dan Oman tersebut menjadi perkembangan tambahan dalam upaya menjaga keamanan dan kelancaran pelayaran di salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.
Dengan perkembangan tersebut, Trump disebut semakin mempertimbangkan kemungkinan mengakhiri konflik dengan Iran tanpa menjadikan tercapainya kesepakatan nuklir sebagai persyaratan utama.
Sebagai gantinya, pembukaan penuh Selat Hormuz serta pengendalian terhadap program nuklir Iran menjadi dua aspek penting yang kini dipertimbangkan Washington dalam upaya mencari jalan keluar dari konflik tersebut.
Red.











