Foto. Ist
majalahsuaraforum.com — Krisis geopolitik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah mulai memunculkan dampak serius terhadap ketahanan pangan global. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan bahwa jutaan orang di berbagai negara berpotensi mengalami kelaparan apabila jalur distribusi pupuk melalui Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.
Peringatan tersebut disampaikan setelah aktivitas pengiriman pupuk internasional melalui jalur laut strategis itu terganggu akibat konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Direktur Eksekutif United Nations Office for Project Services, Jorge Moreira da Silva, mengatakan dunia kini berada dalam situasi yang sangat mendesak karena musim tanam di sejumlah negara segera berakhir.
Dalam keterangannya di Paris pada Senin (11/5/2026), ia menjelaskan bahwa waktu yang tersedia untuk mencegah bencana kemanusiaan semakin sempit.
Menurutnya, Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama perdagangan pupuk dunia. Hampir sepertiga distribusi pupuk global melintasi kawasan tersebut sebelum akhirnya dikirim ke berbagai negara penghasil pangan.
Namun akibat blokade yang terjadi selama beberapa bulan terakhir, distribusi bahan penting seperti amonia, belerang, dan urea mengalami gangguan serius. Kondisi ini membuat banyak negara kesulitan mendapatkan pasokan pupuk untuk kebutuhan pertanian.
PBB memperkirakan dampak dari terganggunya distribusi pupuk tersebut dapat menyebabkan sekitar 45 juta orang tambahan jatuh ke dalam krisis kelaparan, terutama di wilayah Afrika dan Asia yang sangat bergantung pada impor pupuk untuk menjaga produksi pertanian mereka.
Selain menghambat produksi pangan, krisis ini juga memicu kenaikan harga pupuk dunia. Para ahli memperingatkan bahwa lonjakan biaya produksi di sektor pertanian akan berpengaruh langsung terhadap harga bahan pangan global dalam beberapa bulan mendatang.
Jorge Moreira da Silva menjelaskan bahwa satgas PBB sebenarnya telah menyiapkan mekanisme agar kapal pengangkut pupuk tetap dapat melewati Selat Hormuz di tengah konflik yang berlangsung. Bahkan, sistem tersebut disebut dapat dioperasikan dalam waktu tujuh hari apabila mendapat persetujuan dari seluruh pihak terkait.
Sayangnya, hingga saat ini belum ada kesepakatan penuh dari negara-negara yang terlibat konflik maupun negara produsen pupuk di kawasan Teluk.
“Masalahnya adalah musim tanam tidak bisa menunggu. Di beberapa negara Afrika, musim tanam akan berakhir dalam hitungan minggu,” tegas Moreira da Silva.
PBB juga menilai dibutuhkan minimal lima kapal pengangkut pupuk setiap hari agar risiko gagal panen massal dapat ditekan dan rantai pasok pangan dunia tetap berjalan.
Meski harga pangan internasional belum mengalami lonjakan drastis saat ini, organisasi dunia tersebut menilai situasi dapat memburuk apabila jalur distribusi pupuk terus terhambat dalam waktu lama.
Karena itu, PBB mendesak seluruh pihak yang terlibat konflik untuk mengedepankan kepentingan kemanusiaan dan segera membuka akses pelayaran di Selat Hormuz demi mencegah krisis pangan global yang lebih besar.
Red.











