majalahsuaraforum.com – Wacana penerapan kebijakan Work From Home (WFH) satu hari dalam sepekan sebagai langkah penghematan energi mendapat sorotan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Anggota Komisi XII DPR RI, Ateng Sutisna, menilai kebijakan tersebut perlu dikaji lebih mendalam sebelum diterapkan secara luas.
Menurut Ateng, upaya menekan subsidi energi memang penting, terutama di tengah kondisi global yang diwarnai gejolak harga minyak dan ketidakpastian geopolitik. Namun, ia meragukan efektivitas penerapan WFH hanya satu hari dalam seminggu dalam mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
“WFH satu hari belum tentu efektif menurunkan konsumsi BBM. Ada potensi pergeseran aktivitas, dari mobilitas kerja menjadi mobilitas nonesensial,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Potensi Pergeseran Pola Mobilitas Ateng menjelaskan bahwa kebijakan WFH tidak serta-merta menghilangkan aktivitas perjalanan masyarakat. Sebaliknya, ada kemungkinan mobilitas tetap terjadi, hanya saja bergeser dari kebutuhan pekerjaan ke aktivitas lain di luar kepentingan utama.
Hal ini menunjukkan bahwa pengurangan konsumsi BBM tidak bisa hanya bergantung pada pembatasan aktivitas kerja di kantor.
Perlu Kajian Lebih Komprehensif Lebih lanjut, ia menilai pendekatan WFH satu hari per minggu masih terlalu sederhana dalam membaca pola konsumsi energi masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah diminta untuk melakukan perhitungan dan kajian yang lebih komprehensif sebelum menetapkan kebijakan tersebut.
Ateng menekankan bahwa setiap langkah penghematan energi harus mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk perilaku masyarakat dan potensi dampak lanjutan yang mungkin timbul.
Lan.











