Home / Ekonomi / Harga Minyak Dunia Menguat Lagi, Ketegangan AS–Iran Picu Kekhawatiran Pasokan

Harga Minyak Dunia Menguat Lagi, Ketegangan AS–Iran Picu Kekhawatiran Pasokan

Foto. Ist

majalahsuaraforum.com — Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan pada Selasa (24/3/2026), didorong oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan global. Kondisi ini terjadi setelah Iran membantah adanya pembicaraan dengan Amerika Serikat terkait upaya meredakan konflik di kawasan Teluk.

Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan klaim Presiden AS, Donald Trump, yang sebelumnya menyebut kesepakatan dengan Iran berpotensi segera tercapai.

Harga Brent dan WTI Sama-sama Naik Mengacu pada laporan Reuters, harga minyak jenis Brent tercatat naik sekitar US$ 4 (4%) menjadi US$ 103,94 per barel pada pukul 11.00 WIB. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga meningkat US$ 3,49 (4%) ke level US$ 91,62 per barel.

Kenaikan ini terjadi setelah sehari sebelumnya harga minyak sempat anjlok lebih dari 10%. Penurunan itu dipicu oleh keputusan Trump yang menunda rencana serangan terhadap fasilitas energi Iran selama lima hari, dengan alasan adanya peluang negosiasi.

Penundaan Serangan Sempat Redam Harga Kepala analis pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai bahwa penundaan tersebut sempat meredakan ketegangan pasar.

“Dengan menunda serangan selama lima hari, AS secara efektif menghilangkan sebagian besar ‘premi perang’ dari harga minyak. Kenaikan hari ini hanya menunjukkan pasar mulai mencari keseimbangan kembali,” ujarnya.

Selat Hormuz Jadi Faktor Kunci Meski harga kembali naik, pasar tetap berhati-hati karena situasi di Selat Hormuz belum sepenuhnya aman. Jalur ini diketahui menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global.

Konflik yang berlangsung di kawasan tersebut telah mengganggu distribusi energi dunia. Namun, dilaporkan dua kapal tanker yang menuju India masih berhasil melintas pada awal pekan ini.

Iran Bantah Negosiasi, Tuding Manipulasi Pasar Pemerintah Iran menegaskan tidak ada komunikasi dengan pihak AS, sekaligus menyebut klaim Washington sebagai upaya memengaruhi pasar keuangan. Bahkan, Garda Revolusi Iran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap target AS dan menyebut pernyataan Trump sebagai “operasi psikologis usang”.

Proyeksi Harga Masih Tinggi Lembaga keuangan Macquarie memperkirakan harga minyak dalam jangka pendek akan berada di kisaran US$ 85–US$ 90 per barel, dengan potensi kenaikan hingga US$ 110 jika ketegangan berlanjut.

Dalam skenario terburuk, apabila Selat Hormuz tetap tertutup hingga akhir April 2026, harga minyak Brent bahkan diprediksi dapat melonjak hingga US$ 150 per barel.

Pasar Menunggu Kepastian Kenaikan harga minyak saat ini mencerminkan ketidakpastian pasar global yang masih tinggi. Arah pergerakan harga ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik di kawasan Teluk serta kepastian pasokan energi dunia.

Lan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh